Agama Dalam Masyarakat yang Multi Religius

Agama Dalam Masyarakat yang Multi Religius
Oleh Ven K Sri Dhammananda

Ajaran dan pesan-pesan yang disampaikan oleh para pendiri agama, yang merupakan pendiri agama-agama di dunia, terutama bertujuan meringankan penderitaan dan membawa kedamaian serta kebahagiaan bagi seluruh umat manusia melalui pelaksanaan etika moral sesuai dengan cara hidup yang benar. Namun dewasa ini agama-agama di dunia telah berkembang menjadi lembaga-lembaga yang terorganisasi secara besar-besaran tanpa mencerminkan keterlibatan perasaan manusia di dalamnya, dengan akibat bahwa ajaran-ajaran asli dari para pendiri agama masing-masing telah terkikis atau terabaikan sehingga hampir tidak meninggalkan pengaruh pada para pengikutnya terutama dalam hal kesederhanaan, pengendalian diri, kebenaran dan sifat tidak mementingkan diri sendiri. Isi moral dari suatu agama dan nilai-nilai rohaniahnya yang mendorong kehidupan damai diselimuti oleh nilai-nilai lahiriah yang tampak lebih menarik. Banyak pemeluk agama yang telah mengabaikan atau meremehkan pesan-pesan pemimpin agama mereka hanya untuk mencari kekuasaan, ketenaran, dan keuntungan lahiriah lainnya guna kepentingan pribadi. Penyalahgunaan semacam ini cenderung menodai pikiran para penganut agama modern dan menyebabkan persaingan-pesaingan tak sehat dan menimbulkan hambatan-hambatan diantara berbagai kelompok agama maupun di dalam kelompok agama yang sama.

SIKAP TANPA TOLERANSI DALAM KEHIDUPAN BERAGAMA

Bila kita mempelajari sejarah berbagai agama di dunia dan pengaruhnya yang besar atas manusia selama jangka waktu yang panjang, maka kita akan menemukan bahwa kesalahan-kesalahan yang parah telah dilakukan sebagai akibat adanya sikap tanpa toleransi dalam kehidupan beragama. Kata-kata seperti `penyiksaan`, `pengingkar agama`, `atheis`, `penyembah berhala` dan benyak istilah lain yang senada, telah masuk ke dalam perbendaharaan kata dalam buku-buku keagamaan untuk menggambarkan adanya keganasan, kekejaman, prasangka buruk, dan diskriminasi yang dilakukan atas nama agama sebagai hasil dari sikap tanpa toleransi.

Kejadian-kejadian yang patut disayangkan ini telah meninggalkan noda pada agama, yang sedemikian rupa sehingga banyak pemikir condong menolak agama yang terorganisasi atau kata `agama` itu sendiri. Nilai-nilai agama yang sebenarnya sedang merosot dengan cepat dan menghilang dari pikiran orang, bahkan dari mereka yang disebut kaum beragama. Guna mengatasi kecenderungan yang tak menguntungkan ini, maka perlu dan penting bagi semua pihak yang bersangkutan untuk mengadakan suatu pengkajian dan penelitian tentang pelaksanaan prinsip-prinsip agama agar tercapai pemahaman dan kesadaran yang lebih baik mengenai nilai-nilai rohaniah dari suatu agama agar terhindar dari kesalahan-kesalahan masa lampau yang amat disayangkan.

PENDIDIKAN AGAMA

Agar dapat hidup berdampingan secara damai dan serasi dalam suatu masyarakat yang menganut berbagai agama, seseorang harus memperoleh pendidikan agama yang mantap dengan menitikberatkan pada nilai-nilai etika moral sebagai langkah positif yang pertama ke arah saling pengertian dan kerjasama yang lebih baik di antara semua pemeluk agama. Seluruh umat beragama harus bersatu dan saling membantu guna meningkatkan dan menetapkan pendidikan agama yang sesuai dan sistematis, bukan hanya mengenai agama tertentu, tetapi berkenaan dengan pokok-pokok dari semua ajaran agama yang akan memberikan penerangan maupun pandangan yang mendalam tentang sifat nilai-nilai rohaniah yang lebih tinggi dalam kehidupan, terutama nilai-nilai etika moral.

Langkah seperti ini pasti akan membantu mengurangi atau setidak-tidaknya menghilangkan fanatisme agama yang keras dan prasangka buruk secara turun-temurun, yang telah menjadi biang keladi perselisihan antar agama. Tindakan-tindakan lain yang dapat membantu terciptanya saling pengertian dan saling menghormati antar agama yang lebih baik adalah pendirian organisasi antar agama yang mengatur penyelenggaraan ceramah, tukar pendapat, pembahasan, seminar, dan forum tentang agama serta masalah yang bertalian dengannya secara teratur. Dalam pelaksanaannya, yang selalu menjadi motivasi adalah usaha untuk mencari persamaan ke arah perdamaian dan keharmonisan, bukannya sikap supremasi atau dominasi oleh satu agama atas agama lainnya.

KEGIATAN-KEGIATAN UNTUK KESEJAHTERAAN

Penyelenggaraan berbagai pertemuan persahabatan, berbagai program pengabdian masyarakat, dan kegiatan sosial serta kesejahteraan yang melibatkan semua umat beragama bekerjasama guna meningkatkan kehidupan mereka yang kurang beruntung dalam masyarakat, dapat dijadikan alat pengikat persahabatan yang melampaui segala perbedaan agama serta menciptakan semangat saling menghargai dan menghormati, menuju tercapainya kehidupan yang damai dan harmonis antar agama.

ORGANISASI-ORGANISASI PEMUDA

Suatu bidang penting lainnya yang perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh oleh para pemeluk agama yaitu organisasi pemuda dan berbagai kegiatan yang berkaitan dengannya.

Kaum remaja masa kini akan menjadi angkatan dewasa masa depan. Mereka tidak boleh tersesat ke dalam perangkap zaman ini. Seluruh energi dan sumber-sumber potensi remaja harus dimanfaatkan sebagaimana mestinya dan diarahkan pada tujuan yang bersifat membangun. Mereka harus diberitahu tentang semua ajaran dasar agama dalam usaha mengembangkan masyarakat yang damai dan harmonis, dan tidak dicekoki dengan racun yang mencela satu agama terhadap agama yang lainnya. Bila mereka mendapat tujuan semestinya melalui prinsip-prinsip agama seperti kesabaran, sikap tenggang rasa dan pengertian, maka pemuda masa kini akan menjadi modal yang paling berharga dalam peningkatan keserasian hidup beragama dan kerjasama di antara para penganut agama pada masa-masa mendatang.

TOLERANSI DAN RASA HORMAT

Toleransi dan rasa hormat merupakan dua kata yang amat penting, yang harus diingat dalam suatu masyarakat yang multi religius. Seseorang tidak boleh hanya mengkhotbahkan sikap tenggang rasa, tetapi harus berusaha, pada setiap kesempatan yang memungkinkan, untuk selalu melaksanakan semangat keramahan, toleransi, sebab semangat itu akan amat membantu menciptakan suasana yang mengarah pada kehidupan damai dan serasi. Kita mungkin tidak dapat memahami atau menghargai nilai-nilai intrinsik dari upacara atau kebiasaan tertentu yang dilakukan oleh kelompok agama tertentu. Demikian pula orang lain, mungkin tidak bisa memahami atau menghargai upacara atau kebiasaan kita sendiri. Jika kita tak menghendaki orang lain menertawakan perbuatan kita, janganlah kita menertawakan orang lain. Kita harus berusaha mencari arti atau memahami kebiasaan-kebiasaan yang asing bagi kita karena hal ini akan membantu menimbulkan pengertian yang lebih baik, sehingga kita dapat meningkatkan semangat toleransi di antara para penganut agama yang bermacam-macam.

Telah disebutkan bahwa rasa hormat menimbulkan rasa hormat pula. Jika kita mengharap pemeluk agama lain menghormati ibadah agama kita, maka pada gilirannya kita juga tidak boleh ragu-ragu untuk menunjukan rasa hormat kepada mereka pada saat mereka melakukan ibadah mereka. Sikap ini pasti akan mendukung hubungan yang lancar dan ramah dalam suatu masyarakat yang menganut berbagai agama masyarakat multi religius.

Tanpa melaksanakan semangat toleransi dan saling menghormati, maka racun diskriminasi, ejekan, dan kebencian yang berbahaya itu akan menyembur menghancurkan kedamaian dan ketentraman masyarakat dan negara kita. Suatu kenyataan bahwa di negara-negara tertentu yang tidak terdapat semangat toleransi dan saling hormat antar agama, maka pembunuhan, pembakaran dan penghancuran milik yang berharga telah terjadi. Tindakan tak berguna seperti itu, yang menyebabkan hilangnya nyawa yang sangat berharga dan harta benda yang tak dapat ditebus, seharusnya membuka mata semua orang yang mendambakan kehidupan damai dan serasi. Semua umat yang beragama harus bersatu dalam persahabatan dan hubungan baik serta dengan kehendak baik antara satu sama lain guna mencapai harapan semua orang yang cinta damai dalam membangun masyarakat yang serasi, aman dan tentram.

SEGI ROHANIAH DARI KEHIDUPAN

Kehidupan di dunia ini hanyalah suatu masa yang singkat dalam ruang lingkup waktu. Kita selalu mengejar keuntungan lahiriah, namun kita tidak boleh mengabaikan segi-segi rohaniah dari kehidupan sebagaimana telah diajarkan oleh nenek moyang kita yang religius kepada kita. Kita harus memperkaya kehidupan kita dengan melaksanakan ajaran murni dan luhur dari pemimpin agama kita untuk hidup secara terhormat, sopan dan berguna, berbuat kebajikan bila mungkin dan selalu menjauhkan diri dari perbuatan jahat. Ajaran yang sama-sama diutarakan oleh para pemimpin agama seluruh umat manusia hidup dalam kasih sayang dan mendukung segi-segi rohaniah ajaran agama mereka masing-masing, sehingga dapat memberikan sumbangan demi terciptanya suasana yang damai dan serasi.

PENYEBARAN AGAMA

Untuk menyebarkan suatu agama tertentu, maka segi-segi terbaik atau terpenting dari agama tersebut perlu dikemukakan. Penampilan demikian memang diharapkan, sebab wajah yang menarik yang menimbulkan minat harus dimantapkan agar memperoleh perhatian.

Menampilkan yang terbaik merupakan suatu pengutaraan yang cukup jujur, sebab semua pemeluk agama dalam menjual barang dagangan religius mereka, akan selalu bertindak demikian. Namun dalam masyarakat multi religius, persaingan keras untuk mendapatkan penganut baru atau mereka yang pindah agama, haruslah ada saling pengertian di antara para pemuka agama agar terhindar dari perbuatan saling meremehkan, mengkritik, atau menjelek-jelekkan keyakinan dan kebiasaan penganut agama lainnya. Adalah pantas bahwa sesuatu yang bagus, menarik, dan berguna dalam suatu agama tertentu dikemukakan oleh pendukungnya, tetapi seseorang tidak boleh melangkahi penganut agama lainnya untuk memberitahu kepada dunia luar bahwa agamanya sendirilah yang terbaik, paling benar, sedangkan agama serta tata upacara keagamaan lainnya adalah palsu. Sikap demikian cenderung untuk menimbulkan rasa dengki dan bahkan rasa permusuhan di antara sesama pemeluk agama, dengan akibat saling balas dendam dan saling memaki, yang pasti tidak dikehendaki oleh agama terhormat manapun yang layak disebut agama.

Satu kenyataan pula bahwa semua agama hadir demi kebaikan umat manusia. Semua pendiri agama di dunia mengkhotbahkan perdamaian dan keserasian untuk seluruh umat manusia. Para pemimpin agama yang dihormati di dunia itu melalui kebijaksanaannya mengutarakan semua hal yang baik, kelembutan hati dan etika untuk pembebasan dan keikutsertaan umat manusia. Para pemuka agama yang berjiwa luhur itu tidak saling mencela atau menghina sehingga menimbulkan kekacauan, salah pengertian dan perselisihan dalam masyarakat. Hati mereka menghendaki keselamatan dan kesejahteraan umat manusia. Tujuan satu-satunya adalah menciptakan dunia ini lebih baik agar setiap orang dapat hidup dalam persahabatan dan keharmonisan.

Kenyataannya bahwa banyak pemimpin agama bermunculan di dunia ini pada masa dan di tempat yang berbeda-beda, cenderung menimbulkan perbedaan dan keanekaragaman keyakinan dan tata cara agama di berbagai lingkungan dan bagian dunia. Setiap pemimpin agama memiliki konsep, jalan, dan caranya sendiri untuk menyampaikan ajaran agamanya kepada sejumlah besar pengikutnya, maka terdapatlah keserbaragaman keyakinan dan tata cara agama tersebut.

KORBAN KEADAAN

Jika seorang anak kebetulan dilahirkan dalam keluarga Kristen, tidak ada pilihan lain kecuali bahwa anak tersebut akan dibesarkan menurut keyakinan dan cara-cara keagamaan orang tuanya dalam keluarga Kristen. Demikian pula anak yang dilahirkan dalam keluarga Muslim akan dididik menurut keyakinan dan tata cara Islam, dan anak dari keluarga Buddhis akan selalu mengikuti cara hidup Buddhis. Anak yang dilahirkan dalam keluarga Hindu akan dibesarkan sebagai orang Hindu. Kita semua terikat oleh keadaan di sekitar kita, lingkungan, agama, ras, dan kebudayaan, yang tidak dapat kita elakkan. Sebagai anak dalam keluarga religius tertentu, kita akan dididik menurut petunjuk dan latar belakang keagamaan orang tua. Keyakinan agama orang tua kita selalu menjadi keyakinan kita sendiri dan latar belakang budaya menjadi cara hidup kita.

Setiap penganut agama harus berusaha memahami lingkungan dan kebudayaan yang diwarisi masing-masing serta menghormati orang yang menurut apa adanya dan apa yang diyakininya sebagai jalan hidupnya, bukannya memaksakan pada orang lain suatu keyakinan ain dengan menyatakan secara berlagak bahwa “agama saya adalah agama yang benar, anda harus memeluk agama saya – agama anda adalah agama yang salah”. Daging milik seseorang bisa berarti racun bagi orang lain. Tidak boleh menggunakan tekanan, kekerasan atau paksaan dalam suatu masyarakat yang menganut berbagai agama, bila kita ingin hidup secara damai dan harmonis.

KEBEBASAN MELAKUKAN IBADAH

Meskipun Islam merupakan agama resmi di Malaysia, (dan juga di Indonesia, Red) tetapi kebebasan beribadah dan menganut keyakinan agama terdapat dalam Undang-undang (demikian pula di Indonesia, Red). Kita bebas berpikir atau menganut keyakinan agama apapun.

Kita tidak diharuskan untuk mengikuti suatu ibadah atau keyakinan agama tertentu. Kita pelihara kebebasan itu. Sangatlah diharapkan bahwa kebebasan yang kita pupuk ini akan dipertahankan dan diteruskan untuk selamanya dan bahwa kebebasan tersebut tidak akan dinodai atau dihancurkan oleh tindakan-tindakan fanatik yang dilakukan oleh kelompok atau organisasi agama fanatik. Fanatisme dalam bentuk apapun atau dari kalangan manapun bertentangan dengan perdamaian dan keserasian dalam setiap masyarakat.

KESABARAN, TOLERANSI DAN SALING PENGERTIAN

Kita semua tak henti-hentinya mencari kedamaian dan keserasian. Kita menghendaki suasana damai dan serasi untuk keluarga kita. Kita menginginkan suasana damai dan serasi dalam masyarakat dan negara kita. Kita tidak menghendaki bentrokan antar agama, kitapun tak menyetujui pertentangan antar agama dengan ras. Kita ingin hidup saling tenggang rasa.

Kita harus mendukung semua yang bersifat etis. Kita harus bertindak sabar, toleransi dan menunjukkan saling pengertian. Kita harus berlaku sebagai sahabat terhadap yang lainnya, saling menolong dimana saja dan kapan saja diperlukan. Kita harus menyingkirkan diskriminasi ras dan agama. Tanpa memandang ras dan agama, tetapi kita harus menganggap bahwa satu sama lain sebagai saudara dalam keluarga yang bahagia dan sebagai warga negara yang tekun dalam mencari perdamaian dan keserasian bagi Yang Dipertuan Agung dan negara kita. Hal ini harus menjadi ketetapan tekad bagi semua pemeluk agama dalam masyarakat yang multi religius.

PIKIRKAN KEPENTINGAN ORANG LAIN

Sementara kita hargai kenyataan bahwa di Malysia kita mendapat kehormatan untuk melaksanakan upacara dan kebiasaan agama kita masing-masing tanpa rintangan apapun. Kita harus menyadari bahwa kita hidup dalam masyarakat yang multi religius dan multi rasial, oleh karena itu berusahalah untuk selalu memikirkan kepentingan orang lain dalam melakukan apapun. Kita tidak boleh melupakan perasaan kekeluargaan kita kepada mereka yang kebetulan menganut agama lain yang mungkin tidak dapat menghargai upacara tertentu yang asing bagi mereka. Kita harus memikirkan kepentingan orang lain. Kita tidak boleh mementingkan diri sendiri dan kebutuhan kita sendiri. Kita mungkin merasa bahwa ada suatu peringatan atau kejadian istimewa di rumah, yang menyedihkan atau sebaliknya, kita harus mengadakan upacara keagamaan tertentu menurut kebiasaan dan latar belakang budaya kita, kalaupun demikian kita harus bertindak adil dan memperhatikan orang lain, dalam arti bahwa kita tidak berbuat terlalu berlebihan sehingga menimbulkan kesulitan dan gangguan pada tetangga kita. Tata cara agama apapun yang kita lakukan, harus dilaksanakan dalam batas-batas yang wajar dan dalam lingkungan rumah kita, tanpa menyebabkan gangguan yang tak selayaknya pada kedamaian dan ketentraman tetangga kita. Jika kita secara dogmatis mendesak bahwa kita berhak melakukan upacara-upacara agama kita, betapapun ributnya, merepotkannya atau menjengkelkannya, tanpa memikirkan perasaan tetangga kita, pasti kita akan mengundang kesulitan terutama dalam lingkungan yang multi religius. Kita tidak hanya harus memikirkan kepentingan orang lain, tetapi juga harus bersikap realistis dalam perbuatan apapun yang kita lakukan, terutama dalam pelaksanaan ibadah agama kita yang kadang kala kita cenderung bertindak ekstrim dan bahkan menjadi fanatik. Memikirkan kesejahteraan orang lain, sekalipun dalam keadaan yang sulit dan berat, merupakan kunci tercapainya kehidupan yang damai dan serasi dalam masyarakat yang menganut berbagai agama.

PENJUAL BARANG KELILING

Seringkali penghuni rumah mempunyai alasan untuk mengeluh bahwa ketentramannya dan ketenangan rumah tangganya telah diganggu oleh kehadiran penjual keliling yang menjajakan barang-barang religiusnya yang tidak cocok untuk diperdagangkan, baik berguna atau tidak, kepada penghuni rumah yang tak menaruh curiga. Pembicaraan yang ngotot dari penjaja keliling yang tak berpengalaman, namun kelewat bersemangat itu dapat benar-benar menyusahkan pemilik rumah. Mereka para penjaja itu tidak mau mendengar tolakan yang sopan sebagai jawaban dari penghuni rumah, tetapi mereka terus mendesak bahwa barang-barang itu, biasanya berbentuk buku-buku keagamaan, bermutu terbaik dan dengan membelinya anggota rumah tersebut akan melangkah menuju surga. Mereka tidak pernah peduli agama apa yang dianut oleh penghuni rumah tersebut, mereka tidak pernah merasa khawatir kalau-kalau bujukannya akan dianggap sebagai penghinaan terhadap kecerdasan atau kepekaan religius pemilik rumah itu. Patut disayangkan bahwa golongan tertentu memiliki cara pengiriman penjaja yang kelewat bersemangat itu untuk menjual barang-barang religius mereka. Tindakan seperti ini cenderung untuk merendahkan agama yang bersangkutan, dan bukannya menjujungnya. Tak seorang pun senang diberitahu agar ia memeluk agama tertentu dengan mengikuti buku-buku keagamaan tertentu secara teratur, kalau tidak ia akan terjerumus ke neraka abadi. Setiap orang harus dihormati sebagai manusia yang bebas berpikir, mampu memutuskan sendiri kebajikan agama tertentu dan apakah agama tersebut membawanya ke surga atau ke neraka.

Hal ini merupakan pilihan kita masing-masing, pilihan sepenuhnya tertuang dalam Undang-undang Malaysia (demikian pula di Indonesia, Red) tentang kebebasan beribadah. Dalam masyarakat yang multi religius dan multi rasial seperti Malaysia (ataupun Indonesia, Red), para pemeluk agama tidak boleh merendahkan diri sendiri dengan menyalahkan atau menjelekkan penganut agama lainnya yang telah disusun oleh para pemimpin agama termashur berabad-abad yang lampau. Lebih baik bagi pengikut agama tertentu untuk menyanyikan pujian-pujian agamanya di mimbarnya dan tidak menodai usaha-usaha pemeluk agama lainnya, sementara itu memungkinkan orang lain untuk memilih sifat dan jenis agama yang ingin dianutnya. Ada pepatah yang mengatakan bahwa “Anggur yang baik tak perlu dihias”.

Bila anggur itu baik, tentu saja orang akan mencarinya. Seseorang harus bebas untuk memilih agama apapun yang baik baginya tanpa usaha yang memalukan oleh penjual keliling yang berusaha menjajakan “barang-barang” religiusnya dan mendesak orang lain untuk memeluk agama tertentu. Guna mencapai keadaan damai dan serasi yang sulit itu, dalam masyarakat yang multi religius, maka setiap orang harus bebas melagukan pujian-pujian agamanya sendiri, tetapi bagaimanapun juga mereka harus menghindari perbuatan saling menjelekkan. Hinaan seperti itu akan melampaui batas dan akibatnya bisa membawa malapetaka.

POLITIK DAN AGAMA

Suatu segi lain yang perlu diperhatikan dalam usaha mencari kedamaian dan ketentraman dalam masyarakat muti religius bahwa masalah politik dan rasial tidak boleh dimasukkan ke dalam mimbar agama. Dapat kita pahami bahwa dalam dunia politik dewasa ini dan bahkan pada masa lampau, para politisi ingin mempengaruhi semua lembaga termasuk lembaga keagamaan guna meningkatkan tujuan politik mereka. Segala cara merupakanpermainan yang jujur dalam politik, tetapi agama harus menjauhkan diri dari politik dan politisi.

Mimbar rohaniah memenuhi kebutuhan-kebutuhan rohaniah mereka yang berpikir religius, termasuk politisi yang religius, namun mimbar tersebut tidak boleh dipakai oleh politisi yang mungkin dapat merusak kedamaian dan ketentraman tempat ibadah melalui naungan politik mereka. Agama meliputi segalanya dengan demikian tidak boleh terdapat kendala rasial apapun.

Kita semua, sementara menghormati dan menjunjung tinggi agama kita masing-masing, dan dalam keadaan apapun tidak diperkenankan mencela atau memandang rendah ajaran agama yang dianut oleh orang lain. Kita harus berusaha untuk mempelajari dan memahami dasar-dasar semua agama dan memilih apa yang terbaik dan dapat dipraktekkan, serta menyampaikannya yang bersifat kontroversial. Singkatnya, junjung tinggi agama anda sendiri tetapi hormatilah agama orang lain. Hal ini pasti akan membantu terpeliharanya suasana damai dan serasi dalam masyarakat yang multi religius.

KISAH ORANG BUTA

“pernah ada seorang raja di kota Savatthi ini. la memanggil seseorang dan berkata, ‘Bawahanku yang baik, pergilah dan kumpulkan pada satu tempat semua orang di kota Savatthi yang terlahir buta.’

‘Baiklah,’ jawab orang itu, dan ia melakukan apa yang diperintahkan oleh rajanya, dan ketika ia telah berbuat seperti itu, raja berkata kepadanya, ‘Sekarang, wahai bawahanku yang baik, tunjukkanlah kepada orang-orang buta ini seekor gajah.’

‘Baiklah,’ jawab orang itu, dan ia melakukan apa yang diperintahkan oleh rajanya. la menunjukkan kepala gajah kepada salah seorang buta, yang lainnya telinga, yang lain lagi gading, yang lainnya lagi belalai, kaki, punggung, bulu ekomya dan bulunya, sambil berkata kepada mereka masing-masing, ‘Oh Orang Buta, ini adalah seekor gajah.’

Sesudah melakukan hal ini, orang itu menghadap raja dan berkata, Baginda, gajah telah ditunjukkan kepada para orang buta. Lakukanlah apa yang Paduka kehendaki.’ Maka, raja mendatangi orang-orang buta itu dan berkata kepada mereka masing-masing, ‘Oh Orang Buta, sudahkah engkau melihat gajah?’

‘Ya, Baginda, kami telah melihatnya,’ jawab mereka. ‘Kalau begitu, beritahukanlah kepadaku seperti apakah seekor gajah itu.’

Lalu salah seorang buta yang telah ditunjukkan dengan kepala gajah berkata, ‘Seekor gajah adalah seperti sebuah kendi.’ Sedangkan yang telah ditunjukkan dengan telinga berkata, ‘Seekor gajah adalah seperti sebuah tampah.’ Mereka berkata bahwa gading adalah seperti sebuah mata bajak, belalai adalah seperti sebatang tiang bajak, tubuh adalah seperti lumbung, kaki adalah seperti sebatang pilar, punggung adalah seperti lesung, ekor adalah seperti sebuah alu, dan bulu ekor adalah seperti seikat sapu. Lalu mereka mulai berdebat, berteriak seperti ini, ‘Ya! Bukan! Seekor gajah bukan seperti itu! Ya, seperti itu!’ Segera saja mereka mulai berkelahi satu sama lain, dan raja merasa senang dengan apa yang dilihatnya.

Demikian pula, pengembara dari ajaran lain adalah juga buta, mereka tidak dapat melihat, mereka tidak dapat mengetahui yang bermanfaat atau tidak. Mereka tidak tahu apakah itu Dhamma atau bukan. Dan karena ketidaktahuannya, mereka dengan sendirinya suka berdebat, bertengkar, bersikeras, masing-masing mempertahankan pendiriannya bahwa memang demikian.”

Lain, karena telah memahami hal ini, Sang Bhagava mengucapkan sajak berikut ini:

Bagaimanapun mereka bersikeras dan bagaimanapun mereka bertengkar, namun masih menuntut untuk dianggap sebagai pertapa dan brahmana.

Meskipun bertengkar dan bersikeras pada pendapat mereka, mereka hanya melihat satu sisi dari masalah.

UDANA

Terima kasih atas bantuan

-bro Darwanto

-sis Indri

semoga mendapatkan karma baik yg besar atas dana Dhamma-nya

UNTUNG DAN RUGI MEMILIKI HARTA KEKAYAAN

Ada lima kerugian dari memiliki harta kekayaan. Apakah kelima hal itu? Kelima hal itu adalah: harta kekayaan terancam bahaya kebakaran, banjir, (disita oleh) pemerintah, perampokan, dan ahli waris yang suka menghamburkan harta.

Sebaliknya, ada lima keuntungan dari memiliki harta kekayaan. Apakah kelima hal itu? Kelima hal itu adalah: dengan adanya harta kekayaan, orang dapat membuat dirinya senang, orang tuanya senang, isteri, anak-anak, pelayan-pelayan dan pegawai-pegawainya senang, serta teman-teman dan sahabat-sahabatnya senang. Dan kepada para pertapa dan brahmana, orang tersebut dapat melakukan persembahan dengan tujuan mulia, untuk kebahagiaan di masa yang akan datang, serta agar terlahir di alam surga.

ANGGUTTARA NIKAYA

APA ITU ULAMBANA

    TI CANG WANG PHU SA   Ulambana arti harafiahnya “digantung terbalik”, maksudnya derita orang yang telah meninggal bagaikan orang yang digantung terbalik (kepala dibawah)

Tradisi ulambana konon sudah dimulai sejak zaman kuno. Dalam Mahabharata bab I:13, 14, 45 dan 48 pun ada cerita tentang ulambana ( Maksudnya sejak zaman itu sudah ada tradisi upacara penyelamatan arwah leluhur)

Dari Dinasti Liang (538) sampai Dinasti Tang, hari ulambana dirayakan dengan memberikan persembahan kepada Buddha dan Sangha ( baik oleh Raja ataupun Umat awam ). Pada Dinasti Song, ulambana mulai mengutamakan menyembayangi arwah orang mati dengan mambakar uang(arwah) dan baju kertas. Tradisi berdana kepada Buddha dan Sangha mulai memudar. Dalam kalangan Bhiksu mulai muncul kritikan terhadap penyimpangan ini. Lalu diajukan pendapat kompromi : Siang memberi persembahan kepada Tri Ratna, malam menolong para Arwa. Tetapi pendapat ini kurang mendapat sambutan.

Dewasa ini di Vihara-vihara ( di Taiwan ), saat ulambana, selain ada pembacaan sutra dan memberi dana makanan kepada arwah, juga ada pemberian dana makanan kepada para Bhiksu. Akhir-akhir ini di sejumlah kalangan Buddhis Taiwan mulai menetapkan hari tersebut sebagai hari Sangha. Dalam masyarakat Awam, hari tersebut dipercayai sebagai hari pembukaan Gerbang Neraka, Setan kelaparan dilepas. Oleh sebab itu banyak yang menyembelih hewan untuk dipersembahkan kepada para arwah dan para pendeta Taoist turut pula di undang untuk menyembayangi para arwah.

(disadurkan dari “Kamus Besar Fo Kuang (Sinar Buddha)”)

Hati-hati buat para wanita…!!

Hati-hati buat para wanita…!!

PERTAMA :


Katanya, sekarang ini ada cara baru pemerkosaan terhadap wanita. Yang terjadi seperti ini, seorang cewek melihat ada seorang anak kecil dijalanan sedang menangis. Merasa kasihan, ia menanyakan apa yg terjadi pada anak tersebut.”Aku tersesat, bisakah mengantarku pulang?”


Lalu anak kecil itu memberikan selembar kertas yg berisikan alamat rumahnya.Karena cewek itu termasuk orang yg baik hati, tidak menaruh curiga apa2 dan membawa anak tersebut ke alamat yg tertera.

Ketika tiba di “rumah” anak kecil itu, ia menekan bel, tiba2 ia kaget karena bel tersebut bertegangan tinggi dan lalu pingsan. Ketika ia terbangun pada hari berikutnya, a mendapati dirinya dalam keadaan telanjang dalam sebuah rumah kosong Ia tidak pernah melihat wajah
penyerangnya. Itulah sebabnya sekarang ini penindak krimal mencari sasaran pada orang2 yg berbaik hati.

Jika terjadi masalah seperti ini :

“JANGAN PERNAH MEMBAWA ANAK KECIL TERSEBUT KE TEMPAT YG DIMINTA. JIKA MASIH TERUS DIDESAK, BAWALAH ANAK TERSEBUT KE KANTOR POLISI.”


Anak yg tersesat paling bagus dibawa ke kantor polisi..
Tolong sebarkan kepada teman2 kalian semua terutama yg cewek2, istri,adik perempuan. HARAP BER-HATI2.

KEDUA :

Telah beredar sebuah obat baru yang bernama “Progesterex” (you may check the internet for the availability) . Obat ini adalah pil kecil yang digunakan untuk mensterilisasi. Obat ini sekarang dipakai oleh para pemerkosa pada perayaan pesta, Pub, Discotique untuk memperkosa dan mensterilisasi korbannya.

Progesterex pada dasarnya dijual pada beberapa dokter hewan dan toko binatang, dan digunakan untuk mensterilkan hewan besar. Obat biasanya digunakan bersamaan dengan Rohypnol (Roofies) semacam obat bius pembeliannya harus menggunakan resep dokter (tahu sendiri dinegara yg tercint Indonesia
, you have money you can buy almost everything).

Rohypnol ini semacam effervescent tablet yang cepat larut didalam air. Pelaku hanya tinggal memasukan Rohypnol dan Progesterex kedalam minuman mereka berdua dan Korban tidak akan pernah ingat apa yang telah terjadi pada malam/pagi/siang/ sore itu dan Progesterex akan membuat si wanita TIDAK AKAN HAMIL, sehingga si pemerkosa akan tetap bebas berkeliaran without worry about having apaternity test indentifying him beberapa bulan kemudian.

Tetapi yang perlu diperhatikan, EFFECT PROGESTEREX TIDAK SEMENTARA.Progester ex dibuat untuk mensterilkan kuda,jerapah dan binatang besar lainnya. Setiap wanita yang telah meminumnya TIDAK AKAN PERNAH MENGANDUNG LAGI SEUMUR HIDUPNYA. Jadi BERHATI-HATILAH bila pergi ke PUB atau CAFE atau dimanapun anda berada dan jangan menerima minum dari sembarang pria yang tidak anda kenal dengan baik.

Sumber : SB /do ra  <doraqz@gmail.com>

GURU

GURU

OLEH : IBU YULI

SMK TI PATRIA DHARMA

                                                                                         

GURU DIKENAL SEBAGAI PAHLAWAN TANPA TANDA JASA

GURU UJUNG TOMBAK KEHIDUPAN

GENERASI BERIKUTNYA

TERKADANG GURU BISA MENANGIS

TAPI TAK MENGELUARKAN AIR MATA

TERKADANG GURU BISA TERTAWA

TAPI TAK BISA BERSUARA

SELALU GUNDAH DALAM LARA

TERPAKU MEMBISU TANPA SUARA

GURU PERSATUAN BUKAN GURU ZAMANNYA “OEMAR BAKRI”

YANG HANYA MERATAPI NASIB YANG TAK PASTI

MAJU TERUS GURU……………………!!!!!!!!!!!!

PANTANG MUNDUR…………………..!!!!!!!!!!!!

 

Positive Forgiveness

 

Positive Forgiveness

Written by Ajahn Brahm

Thursday, 13 March 2003


Memaafkan mungkin hanya berhasil di dalam vihara. Saya tahu anda berpikir bahwa kalau kita memberikan maaf dalam kehidupan nyata, kita hanya akan dimanfaatkan oleh orang lain. Orang lain akan melangkahi kita, mereka akan berpikir bahwa kita lemah. Saya setuju. Pemberian maaf seperti itu jarang bisa berhasil. Seperti kata orang, ‘dia yang memberikan pipi sebelahnya, harus pergi ke dokter gigi dua kali, bukannya sekali!’.

Memaafkan mungkin hanya berhasil di dalam vihara. Saya tahu anda berpikir bahwa kalau kita memberikan maaf dalam kehidupan nyata, kita hanya akan dimanfaatkan oleh orang lain. Orang lain akan melangkahi kita, mereka akan berpikir bahwa kita lemah. Saya setuju. Pemberian maaf seperti itu jarang bisa berhasil. Seperti kata orang, ‘dia yang memberikan pipi sebelahnya, harus pergi ke dokter gigi dua kali, bukannya sekali!’.

Pemerintah Thai, dalam cerita sebelumnya, memberikan lebih dari sekadar maaf melalui pengampunan tanpa syarat, namun juga mengobati akar permasalahannya, kemiskinan dan mengatasinya dengan baik. Itulah mengapa pemberian pengampunan berhasil.

Saya menyebut pemberian maaf seperti itu dengan ‘positive forgiveness’. ‘Positive’ berarti memberikan dukungan positif pada hal-hal baik yang ingin kita lihat. ‘Forgiveness’ berarti melepaskan hal-hal buruk yang menjadi bagian dari masalah –bukan memperdalam ataupun mengingat-ingatnya, melainkan moving on. Contohnya, dalam sebuah kebun, memberi air pada tanaman liar adalah seperti menyuburkan masalah; tidak memberi air sama sekali adalah seperti hanya mempraktekkan pemberiaan maaf; dan memberi air kepada bunga tapi tidak kepada tanaman liar menggambarkan ‘positive forgiveness’.

Sekitar 10 tahun yang lalu, dalam suatu acara Jumat malam di Perth, seorang wanita datang kepada saya. Saya ingat, dia telah secara rutin hadir setiap acara Jumat mingguan, tapi ini pertama kalinya dia berbicara langsung kepada saya. Dia mengatakan bahwa dia ingin mengucapkan terima kasih, bukan hanya kepada saya, tapi juga kepada semua bhikkhu yang mengajar di sana. Lalu dia mulai menjelaskan mengapa. Dia mulai datang ke vihara kami 7 tahun silam. Saat itu, dia tidaklah tertarik pada Buddha Dhamma ataupun meditasi. Alasan utamanya ke vihara sekadar alasan untuk meninggalkan rumah.

Dia mempunyai suami yang brutal. Dia adalah seorang korban kekerasan domestik yang luar biasa. Pada saat itu, dukungan lembaga-lembaga belumlah ada untuk menolong korban kekerasan seperti itu. Dalam sebuah luapan emosi, dia tidak bisa berpikir jernih, pokoknya lari selamanya dari sana. Jadi dia datang ke vihara, dengan pikiran bahwa selama 2 jam di vihara, berarti 2 jam dia bebas dari kekerasan.

Apa yang didengarnya dari vihara kami mengubah hidupnya. Dia mendengar dari bhikkhu-bhikkhu mengenai positive forgiveness. Dia memutuskan untuk mencoba ke suaminya. Dia bercerita bahwa setiap kali suaminya memukul, dia memaafkannya dan melupakannya. Bagaimana dia bisa melakukannya, hanya dia yang tahu. Lalu setiap kali sang suami melakukan atau mengatakan sesuatu yang baik, bagaimanapun kecilnya, saat itu juga dia akan memeluknya atau mencium ataupun memberikan tanda-tanda untuk mengisyaratkan kepada sang suami betapa berarti kebaikan tersebut baginya. Dia sama sekali tidak berpura-pura, melainkan tulus, setulus-tulusnya.

Dia menghembuskan nafas dan berkata kepada saya bahwa dia melakukannya selama 7 tahun. Pada saat itu matanya sudah berkaca-kaca dan demikian pula dengan saya. “Selama 7 tahun…”, katanya, “dan sekarang anda tidak akan dapat mengenali pria itu lagi. Dia berubah total. Sekarang, kami mempunyai hubungan yang berharga dan saling mencintai dan dua orang anak yang lucu.” Wajahnya terlihat bersinar. Saya rasanya hendak berlutut dihadapannya. “Anda lihat tempat duduk itu?” katanya, menunjukkan kepada saya, “Dia membuat tempat duduk kayu buat bermeditasi itu untuk saya minggu ini sebagai surprise… Andai saja itu terjadi 7 tahun yang lalu, dia hanya akan menggunakannya untuk memukul saya!” Tenggorokan saya yang tersumbat menjadi lega bersamaan dengan tawa kami berdua.

Saya mengagumi wanita itu. Dia meraih dan memenangkan kebahagiaannya, menurut saya, dari kecemerlangan kualitas dirinya. Dan dia telah mengubah seorang monster menjadi seorang pria yang care. Dia menolong diri sendiri sekaligus suaminya, sungguh mengagumkan.

Itu adalah contoh ekstrim dari positive forgiveness, keberhasilan dari usaha yang luar biasa. Namun, itu telah menunjukkan apa yang bisa dicapai saat pemberian maaf dipadukan dengan pemberian dukungan pada hal-hal yang baik.



Dari buku “Opening the Door of Your Heart”
Ajahn Brahm

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.