KENAPA ORANG BERAGAMA

Tanya Jawab

Pertanyaan:

Pertama, apakah pengertian agama ? Dalam pengertian lain, disebutkan bahwa istilah ‘agama’ terdiri dari dua kata yaitu ‘a’ yang berarti tidak, dan ‘gama’ yang berarti mati atau pergi. Jadi, agama bertujuan agar orang tidak mengalami kematian yaitu mendapatkan hidup kekal setelah kiamat.

Kedua, kenapa orang perlu beragama?

Jawaban :

Agama berdasarkan sejarah, sebenarnya adalah buatan manusia setelah Sang Guru atau nabi wafat. Mereka, para guru dan nabi, adalah orang yang mengajar kebajikan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat yang ada saat itu. Mereka tidak mengumumkan kepada masyarakat bahwa mereka membuat suatu agama tertentu.

Dalam pengertian Dhamma, agama adalah pelembagaan Ajaran Sang Buddha ditambah dengan berbagai tradisi yang berasal dari masyarakat tempat Ajaran Sang Buddha itu berkembang. Maksud Ajaran Sang Buddha di sini adalah berbagai uraian yang diajarkan Sang Buddha agar siapapun yang melaksanakan mampu melenyapkan ketamakan, kebencian serta kegelapan batin. Sedangkan tradisi adalah tata cara ritual yang disesuaikan dengan kondisi atau kebudayaan setempat.

Sedangkan manusia perlu beragama karena masa hidup manusia yang relatif cukup singkat. Katakanlah usia manusia saat ini rata-rata 75 tahun. Apabila ia harus belajar dan mencoba sendiri berbagai sistem kebajikan, maka mungkin usia yang ia miliki tidak mencukupi untuk mencapai hasil maksimal. Dengan mengikuti suatu agama yang sudah ada, manusia akan lebih banyak mempunyai kesempatan untuk melaksanakan dan membuktikan kecocokan suatu agama. Ia lebih cepat mendapatkan pedoman hidup yang langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga ia menjadi orang yang lebih baik dalam perilaku, ucapan maupun cara berpikir.

Pertanyaan :

Pertama, apakah ada hubungannya kita beragama A, B atau C dengan karma masa lampau ?

Kedua, kita menganut Agama Buddha karena dianggap cocok, namun kenapa hanya sedikit orang yang berani menyatakan diri sebagai umat Buddha ?

Jawaban :

Seseorang mengikuti suatu agama memang salah satunya adalah karena adanya ikatan kamma yang ia miliki dengan agama tersebut. Dalam Dhamma memang disampaikan bahwa seseorang terlahir di suatu tempat, oleh orangtua tertentu, memiliki teman tertentu maupun agama tertentu adalah karena ikatan kamma yang dimilikinya sejak kehidupan sebelumnya. Oleh karena itu, dalam Dhamma disampaikan apabila seseorang ingin mengenal Dhamma kembali di kehidupan mendatang, maka ia hendaknya selalu bertekad menjadi umat Buddha sejak di kehidupan ini. Kekuatan tekad inilah yang nantinya menjadi salah satu penyebab seseorang cocok dengan suatu agama.

Sedangkan umat Buddha yang sering tidak mengakui agamanya kemungkinan besar hanya terjadi di Indonesia. Sikap tersebut mungkin terpengaruh oleh kehidupan berpolitik di negara ini. Hal ini tentu sangat bertolak belakang dengan para umat Buddha di negara Buddhis. Mereka dengan tegas dan jelas mengaku dirinya sebagai umat Buddha. Dengan demikian, keengganan menyebutkan dirinya sebagai umat Buddha sangat tergantung pada orang dan kebudayaan setempat, bukan karena Ajaran Sang Buddha. Meskipun demikian, manfaat Ajaran Sang Buddha akan tetap sama untuk mereka yang berjuang melaksanakan Dhamma tanpa dibedakan keberanian mengaku atau tidak mengaku dirinya adalah umat Buddha.

Pertanyaan :

Bagaimana cara memasyarakatkan agama untuk hidup ?

Jawaban :

Pertama, harus dijelaskan terlebih dahulu kepada masyarakat bahwa dasar pemilihan agama bukan masalah benar dan salah, namun hanya karena kecocokan. Seseorang memilih agama tertentu karena ia cocok. Adapun agama yang tidak ia pilih adalah karena ia tidak cocok, bukan karena agama itu salah atau sesat.

Kedua, jelaskan pula kepada masyarakat bahwa agama bersifat pribadi. Dengan demikian, seseorang memilih agama tertentu sebagai agamanya adalah hak pribadinya, tidak bisa diganggu gugat. Demikian pula dengan orang lain yang mungkin mempunyai pegangan agama yang berbeda. Masing-masing hendaknya mengakui hak dan kebebasan memilih agama yang dimiliki oleh setiap orang. Pemilihan agama tidak perlu diperdebatkan maupun dipaksakan. Dengan mempertanyakan atau mengajak berdebat apabila bertemu dengan mereka yang berbeda agama, maka di bawah sadar sebenarnya telah muncul pemikiran dalam dirinya bahwa agama sendiri baik sedangkan agama orang lain tidak baik, tidak benar bahkan sesat.

Ketiga, apabila seseorang bertemu dengan orang yang memaksakan agamanya sehingga meresahkan masyarakat, maka ia hendaknya berusaha memberikan penjelasan secara baik-baik atas sikapnya yang kurang bisa diterima. Selain itu, ia hendaknya menjadikan pengalaman ini sebagai pelajaran agar ia sendiri di masa depan tidak meniru sikap buruk tersebut. Dengan demikian, apabila seseorang ingin memperbaiki kondisi masyarakat yang terdiri dari banyak agama dan kepercayaan ini, maka mulailah dengan memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu. Jadikanlah diri sebagai contoh kebajikan. Dengan demikian, apabila semakin banyak orang yang meniru kebajikan yang telah ia lakukan, maka semakin banyak pula anggota masyarakat yang mempunyai pemikiran bahwa agama untuk hidup. Jadi, tujuan memasyarakatkan pengertian ini dapat dicapai dengan menjadikan diri sendiri sebagai salah satu teladan masyarakat.

Pertanyaan :

Pertama, dalam Agama Buddha, tujuan terakhir adalah Nibbana atau Nirwana. Apakah dari umat beragama lain bisa mencapai tujuan tersebut?

Kedua, apabila agama adalah rakit, setelah selesai dipergunakan untuk menyeberang apakah rakit itu tidak perlu dikenang atau diturunkan kepada yang lain?

Jawaban :

Menjawab pertanyaan pertama, perlu diketahui bahwa pencapaian kesucian atau Nibbana adalah salah satu dari tiga tujuan seorang umat Buddha. Ketiga tujuan hidup itu adalah pertama, mencapai kebahagiaan di dunia dengan kecukupan minimal empat kebutuhan pokok yaitu pakaian, makanan, tempat tinggal dan sarana kesehatan. Kedua adalah mencapai kebahagiaan setelah meninggal dunia yaitu terlahir di salah satu alam surga karena kebajikan melalui badan, ucapan dan pikiran yang telah ia lakukan selama hidupnya. Tujuan hidup ketiga barulah mencapai kesucian yaitu berhasil membebaskan diri dari ketamakan, kebencian serta kegelapan batin.

Dalam pengertian Dhamma, Agama Buddha hanyalah pelembagaan Ajaran Sang Buddha dengan menambahkan berbagai tradisi masyarakat setempat. Agama bukanlah hal penting. Jauh lebih penting dari Agama Buddha adalah pelaksanaan Ajaran Sang Buddha dalam kehidupan sehari-hari. Pelaksanaan Ajaran Sang Buddha tersebut adalah Jalan Mulia Berunsur Delapan yaitu Pikiran Benar, Pandangan Benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Mata Pencaharian Benar, Daya Upaya Benar, Konsentrasi Benar dan Perhatian Benar. Jadi, meskipun seseorang bukan umat Buddha, namun apabila ia mau dan mampu melaksanakan Jalan Mulia Berunsur Delapan tersebut, ia mempunyai kesempatan mencapai kesucian atau Nibbana. Ia bisa mencapai Nibbana bahkan tanpa harus mengaku dirinya sebagai umat Buddha terlebih dahulu. Namun, kalaupun ia tidak bisa mencapai Nibbana, pelaksanaan Jalan Mulia Berunsur Delapan akan memberikan kebahagiaan baginya di dunia maupun di alam surga setelah meninggal nanti.

Menjawab pertanyaan kedua, setelah seseorang melaksanakan Jalan Mulia Berunsur Delapan dan mencapai kesucian maka Buddha Dhamma menjadi gaya hidup dan cara berpikirnya. Ia sudah tidak dapat dipisahkan lagi dengan Dhamma. Segala tindakan, ucapan dan pikiran yang dilakukan setiap saat selalu selaras dengan Dhamma. Ia telah menyatu dengan rakit Dhamma yaitu kerelaan, kemoralan serta konsentrasi. Oleh karena itu, orang lain hanya bisa meniru namun tidak bisa mendapatkan ‘warisan’ rakit Dhamma tersebut. Mereka yang mau meniru dengan menjadikan Dhamma sebagai jalan hidup atau rakit, maka mereka pula yang nantinya juga akan mencapai kesucian atau pantai seberang yaitu Nibbana.

Pertanyaan :

Pertama, dalam kehidupan masyarakat sekarang ini moralitas rendah, perasaan sosial hancur, tindak kejahatan bemunculan di sana sini dan sangat mempengaruhi pikiran umat manusia. Dalam kondisi yang seperti ini apakah mungkin agama mengubah moralitas manusia menjadi lebih baik?

Kedua, para nabi dan para suci sejak jaman dulu sampai sekarang selalu mengajarkan manusia untuk tidak melakukan kejahatan. Tetapi kenyataannya, umat manusia sekarang tidak menjadi baik tapi menjadi lebih buruk. Sebagai contoh, belakangan ini sering diketahui dari media massa bahwa seorang ayah menggauli anaknya sendiri sehingga melahirkan anak. Apa sebab semua hal ini bisa terjadi?

Jawaban:

Agama selalu berbicara tentang kebaikan. Namun, dalam pelaksanaan kehidupan beragama sering terjadi kekeliruan penafsiran agama. Kadang terdapat orang yang keliru memahami Kitab Suci yang ia baca. Akan tetapi, ia kemudian sudah melakukan tindakan berdasarkan pengertian salah yang ia miliki. Akibatnya, semakin lama ia mengikuti suatu agama, perilaku yang ditunjukkan semakin merugikan diri sendiri dan menakutkan lingkungannya. Padahal, seharusnya tujuan seseorang mengikuti suatu agama adalah untuk mencapai kebahagiaan dalam dirinya maupun lingkungannya.

Dalam kondisi demikian, pertanyaan ‘mungkinkah agama mengubah moralitas manusia menjadi lebih baik?’ harus dicermati secara individu, bukan secara global. Hal ini karena mereka yang mempelajari serta melaksanakan Ajaran Sang Buddha, dalam menyikapi keadaan masyarakat yang kurang baik ini akan selalu membangkitkan pertanyaan di batinnya, “Sudahkah saya berperanserta dalam membangun masyarakat yang lebih baik? Mampukah saya melakukan kebajikan dan menghindari kejahatan yang berpotensi menakutkan masyarakat?” Pertanyaan ini timbul sehubungan tujuan Ajaran Sang Buddha adalah untuk mengubah dan memperbaiki diri, bukan masyarakat. Karena itu, apabila seseorang mampu menjadi baik berarti dalam masyarakat akan bertambah satu orang baik yaitu dirinya. Semakin banyak orang menjadi baik, tentu kondisi moralitas masyarakat akan semakin baik pula. Demikianlah, meningkatkan moralitas dalam masyarakat dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu. Kemauan untuk mengubah lingkungan atas nama agama justru akan menimbulkan teror masyarakat yang sangat menakutkan.

Lalu pertanyaan kedua, pendidikan agama telah diberikan dimana-mana, namun orang jahat juga masih banyak. Tentu saja peranan umat beragama adalah berusaha tanpa kenal lelah maupun bosan untuk memberikan bimbingan moral kepada mereka. Berikanlah pengertian tentang Hukum Sebab dan Akibat bahwa mereka yang melakukan kejahatan akan mendapatkan penderitaan maupun kesulitan. Namun, kalau orang itu tetap tidak mau mengerti, maka besar kemungkinan cara memberikan nasehat yang kurang tepat. Untuk itu, ubahlah cara menginformasikan Hukum Sebab dan Akibat agar lebih menarik dan mengena. Atau carilah orang yang sesuai untuk menasehatinya. Dengan demikian, sedikit demi sedikit orang itu akan menjadi lebih baik perilakunya.

Selain itu, para pemuka agama hendaknya juga memberikan contoh dan teladan kebajikan. Dengan demikian, akan semakin banyak umat yang menjadi baik pula. Tanpa adanya contoh dari pimpinan agama, tentunya sulit mengharapkan umat bersikap lebih baik daripada pimpinan agamanya. Jadi, hal paling perlu dilakukan umat beragama Buddha agar ia mampu membantu meningkatkan kemoralan masyarakat adalah dengan selalu bertanya pada diri sendiri, ”Sudahkah saya berperilaku baik sesuai dengan Ajaran Sang Buddha?” Jika belum dilaksanakan, tentu masih belum terlambat untuk memulainya sekarang juga. Apabila ia sudah melaksanakannya, hendaknya ia terus meningkatkan pelaksanaan Ajaran Sang Buddha sampai ia mencapai kesucian atau Nibbana.

Pertanyaan :

Banyak orang beragama melakukan tindakan buruk. Masyarakat menilai bahwa kejadian itu adalah salah oknumnya, bukan agamanya. Padahal, seharusnya, kalau seseorang beragama bertindak jahat, ia sebaiknya keluar dari agamanya agar tidak memalukan agamanya. Apakah pandangan ini bisa dibenarkan?

Jawaban :

Agama adalah rakit. Agama hendaknya bermanfaat pula untuk mereka yang berperilaku buruk. Kalau semua orang yang berperilaku buruk diminta keluar dari agama, tentunya perilaku mereka akan bertambah buruk jadinya. Kasihan. Pandangan demikian adalah kurang benar. Justru mereka perlu dibantu oleh agama yang mereka percayai agar mereka mampu berperilaku lebih baik. Kalaupun pada saat ini ia masih belum sempurna melaksanakan seluruh ajaran agama, kiranya hal itu bisa dimaklumi. Ia masih dalam proses menyeberang dengan rakit agama. Semakin jauh dari pantai seberang, tentu perilaku yang ditunjukkan semakin jauh pula dari tujuan hidup beragama. Namun, setahap demi setahap, dibimbing dengan penuh kesabaran dan keuletan, kiranya orang tersebut dapat diarahkan agar mempergunakan rakit atau agamanya untuk memperbaiki perilakunya. Tentu saja, ketika ia telah mencapai pantai seberang, perilakunya otomatis menjadi baik. Ia tidak tercela lagi. Oleh karena itu, hendaknya dimengerti bahwa seseorang yang menjadi baik setelah mengikuti suatu agama bukan diukur dari lamanya ia telah belajar agama, melainkan dari kesediaannya untuk melaksanakan berbagai ajaran yang ada dalam agamanya. Kesediaan ini diperlukan karena ajaran agama adalah untuk mengatasi diri sendiri sehingga menjadi orang baik dan tidak menimbulkan masalah untuk lingkungannya.

Pertanyaan :

Ajaran Sang Buddha bermanfaat untuk mengurangi ketamakan. Padahal, kalau dipikir lebih mendalam seseorang yang ingin mendengarkan ceramah Dhamma apakah ia termasuk tamak karena ia ingin ‘mendapat’? Ketika mengajak orang lain mendengarkan Dhamma, apakah hal ini juga termasuk tamak karena ia ingin ‘mendapat’? Ingin bermeditasi agar mendapatkan ketenangan, apakah juga termasuk tamak karena hal ini berangkat dari keinginan ‘mendapat’? Apakah benar pemikiran ini?

Jawaban :

Seseorang memang tampak bersikap ‘tamak’ ketika ia mengajak teman-teman mendengarkan Dhamma. Namun, apabila ditinjau dari sisi lain, ia sebenarnya justru mengembangkan kerelaan karena ia memberi kesempatan kepada teman-teman untuk mendapatkan Dhamma.

Dalam pelaksanaan kerelaan, kemoralan serta konsentrasi, Sang Buddha tidak pernah menyebutkannya sebagai ketamakan. Tidak pernah, walaupun hanya sekali. Semua perilaku kebajikan itu justru merupakan latihan mengurangi ketamakan, kebencian serta kegelapan batin. Adalah wajar apabila seseorang untuk mendapatkan kemajuan, ia perlu belajar terlebih dahulu. Ia belajar Dhamma untuk mengurangi ketamakan. Ia belajar meditasi untuk mengurangi ketamakan. Belajar Dhamma di sini hanyalah sebagai rakit, sebagai alat bukan tujuan. Tujuan yang hendak dicapai tetap sama yaitu mengurangi bahkan melenyapkan ketamakan. Kondisi ini sama dengan seseorang yang sakit dan diberi obat oleh dokter. Pasien tersebut sesungguhnya diberi dokter sejenis ‘racun’ untuk mengatasi penyakitnya. Jadi, dalam istilah umum disebut dengan ”racun mengalahkan racun”. Demikian pula tujuan ‘tamak’ belajar dan melaksanakan Dhamma adalah untuk mengatasi ketamakan yang telah terbawa sejak lahir sehingga ia berhasil mencapai kesucian. Pada saat seseorang mencapai tahap kesucian yang tertinggi inilah ia sama sekali terbebas dari segala bentuk ketamakan.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: