Peta Yang Memiliki Mulut Berbau Busuk.

Engkau memiliki warna kulit surgawi yang indah.’ Demikian dikatakan Sang Guru ketika Beliau sedang berdiam di Tempat Memberi Makan Tupai di Hutan Bambu berkenaan dengan peta yang memiliki mulut berbau busuk.

Dikatakan bahwa dahulu kala, pada zaman Buddha Kassapa, dua orang laki-laki muda dari keluarga baik-baik meninggalkan keduniawian dan masuk ke dalam ajaran Sang Buddha. Mereka menjalani perilaku yang bermoral, pengendalian diri yang keras, dan hidup rukun di suatu desa. Namun pada suatu hari datang seorang bhikkhu yang senang melakukan perbuatan-perbuatan jahat dan suka memfitnah. Kedua Thera ini menyambut dengan ramah dan mempersilakan dia untuk tinggal. Pada hari berikutnya mereka bersama-sama pergi ke desa untuk mengumpulkan dana makanan. Ketika melihat tiga Thera ini, penduduk desa memperlakukan mereka dengan amat hormat dan melayani dengan makanan bubur beras dll. Maka ketika kembali ke vihara, bhikkhu itu berpikir, ‘Desa ini merupakan sumber makanan yang baik karena penduduknya memiliki keyakinan yang besar. Dana makanannya pun pilihan. Vihara ini teduh dan airnya pun baik. Aku bisa tinggal di sini dengan bahagia. Tetapi selama dua bhikkhu itu masih di sini, vihara ini tidak akan memberikan kenyamanan karena aku akan hidup seperti murid tumpangan. Maka, aku harus memecah-belah mereka dan melakukan sesuatu agar mereka tidak lagi tinggal disini.’

 

Oleh karena itu, pada suatu hari setelah Thera yang senior mengajar dua bhikkhu lainnya, bhikkhu pemfitnah itu masuk ke tempat tinggalnya sendiri, berdiam di sana beberapa saat dan kemudian menghampiri bhikkhu senior itu. Bhikkhu senior itu bertanya, ‘Mengapa engkau datang pada saat yang tidak tepat, saudaraku?’ ‘Ada sesuatu yang harus saya katakan, Yang Mulia,’ (jawabnya). Ketika sang Thera memberikan izin (untuk berbicara) dia mengatakan, `Yang Mulia, di depanmu Thera temanmu itu berlaku seperti teman, tetapi di belakangmu dia suka menjelek-jelekkan engkau sebagai pesaing.’ Ketika ditanya apa (itu yang) dikatakan, dia menjawab, ‘Dengarkan, Yang Mulia, dia bicara menjelek-jelekkan engkau. Katanya, “Thera senior ini licik, suka menipu, dan gadungan. Dia mencari nafkah dengan cara yang salah.”‘ ‘Jangan berbicara demikian, saudaraku. Bhikkhu itu tidak akan berbohong tentang saya. Dia sudah mengetahui watakku sejak kami masih umat awam. Sudah menjadi sifat saya untuk selalu baik dan ramah.’ ‘Jika engkau berpikir demikian karena kemurnian hatimu, terserah. tetapi saya tidak bermusuhan dengan dia, jadi untuk apa saya berkata bahwa dia mengatakan hal demikian seandainya dia tidak mengatakannya? Baiklah. Engkau akan melihat sendiri setelah beberapa waktu,’ katanya. Karena Thera itu masih puthujjana, dia goyah, dan mulai menduga-duga, ‘Mungkinkah betul apa yang dikatakan itu?’. Maka rasa curiga muncul di hatinya, dan kepercayaannya agak goncang. Setelah mengadu pada Thera senior yang pertama, dengan cara yang sama si dungu itu pun membuat agar Thera satunya memiliki rasa permusuhan. Pada hari berikutnya, kedua Thera tersebut tidak saling menyapa ketika memakai jubah, rnengambil mangkuk dan pergi ke desa untuk mengumpulkan dana makanan. Ketika membawa kembali dana makanan, mereka masing-masing makan di tempat kediamannya sendiri, tanpa beramah-tamah sedikit pun. Mereka melewatkan siang hari di sana, dan ketika fajar menyingsing, masing-masing pergi sesukanya tanpa memberitahu yang lain. Ketika orang-orang melihat si bhikkhu pemfitnah pergi mengumpulkan dana makanan ke desa yang dapat memenuhi segala keinginannya, mereka bertanya, ‘Ke mana para Thera pergi, Yang Mulia?’ ‘Mereka bertengkar sepanjang malam. Sudah saya nasihatkan agar mereka hidup rukun, jangan bertengkar. Juga saya beritahukan bahwa pertengkaran akan membawa kesialan, menimbulkan kesengsaraan di masa depan dan memicu perbuatan-perbuatan tak-bajik lain; lagi pula sebagian besar perbuatan bermanfaat yang telah dilakukan akan hilang lewat pertengkaran – dan sebagainya, tetapi mereka pergi begitu saja tanpa mengacuhkan kata-kata saya.’ Mendengar hal ini orang-orang itu memohon, ‘Biarlah para Thera itu pergi sesukanya. Tetapi kami mohon Yang Mulia tinggal di sini demi belas kasihan kepada kami Yang Mulia tidak akan menyesal.’ ‘Baiklah,’ dia setuju. Namun setelah tinggal di sana selama beberapa hari, dia mulai berpikir, ‘Aku telah membuat bhikkhu-bhikkhu yang luhur dan memiliki watak yang baik itu saling bermusuhan karena keserakahanku terhadap tempat tinggal. Jelas aku telah melakukan perbuatan yang sangat jahat!’ [14] Dibebani suara hati nurani yang amat tidak enak, dia jatuh sakit karena beban kesedihan, dan ketika meninggal tidak lama kemudian, dia pun muncul di Avici.

Kedua Thera yang lain berkelana di negeri itu, dan suatu ketika bertemu serta bertegur sapa. Mereka saling memberitahukan kata-kata bhikkhu pemfitnah yang menimbulkan perselisihan itu. Ketika menyadari bahwa tidak ada kebenaran di dalamnya, mereka berbaikan (lagi) dan akhirnya kembali ke tempat tinggal semula.

Ketika orang-orang melihat kedua Thera itu, mereka sangat bersuka-cita. Dengan amat bahagia mereka melayani kedua Thera itu dan memberikan empat kebutuhan pokok. Para Thera itu pun tinggal di sana. Ditopang dengan makanan yang cocok, mereka mengembangkan pandangan terang melalui konsentrasi pikiran. Tak lama kemudian mereka pun mencapai tingkat Arahat.

Bhikkhu pemfitnah itu terbakar di neraka selama satu masa jeda-Buddha dan muncul pada periode Buddha Gotama tidak jauh dari Rajagaha sebagai peta yang mulutnya berbau busuk. Tubuhnya berwarna emas tetapi cacing-cacing keluar dari mulutnya untuk memangsa wajahnya di sana sini. Dia menyebarkan bau busuk sampai jauh ke udara. Ketika Y.M. Narada turun clari Puncak Burung Nasar, beliau melihat peta ini dan bertanya tentang perbuatan yang telah dilakukannya lewat syair ini:

1 ‘Engkau memiliki warna kulit surgawi yang indah. Tetapi ketika engkau berdiri di udara, di langit, cacing-cacing memangsa mulutmu yang berbau busuk. Perbuatan apakah yang telah engkau lakukan di masa lalu?’

‘engkau berdiri di udara menyinari langit’. [15] Berbau busuk (putigandham) : memiliki bau mayat yang membusuk, artinya bau busuk yang amat menusuk. Perbuatan apakah yang telah engkau lakukan di masa lalu (kim kammam akasi pubbe):

Ketika ditanya oleh Thera itu tentang perbuatan yang telah dilakukannya, peta itu mengucapkan syair ini untuk menjelaskan persoalannya:

 

2 ‘Dahulu aku adalah petapa yang jahat, dan mulutku jelek; (walaupun) menyamar sebagai petapa, aku tidak terkendali di mulut. Melalui kerasnya usahaku maka aku menerima warna kulit ini, dan karena fitnahku maka aku menerima mulut yang berbau busuk ini.’

Di sini Dahulu aku adalah petapa yang jahat (samano aham papo): aku adalah petapa yang hina, bhikkhu yang jahat. Bermulut busuk (dutthavaco) : berbicara jelek; aku menyinggung orang-orang lain, aku bertindak terlalu jauh lewat mulutku, artinya aku berbicara menjelek-jelekkan keluhuran orang lain. Pilihan lainnya adalah bermulut luar biasa bau (atidutthavaco) : luar biasa kasar bicaranya, suka berperilaku buruk lewat ucapan, seperti misalnya berbicara bohong, memfitnah dll.

Setelah menceritakan perbuatan yang telah dilakukannya, peta itu kemudian mengucapkan syair penutup untuk menjelaskan kepada Thera itu:

3 ‘Engkau sendiri telah melihat ini, Narada. Mereka yang memiliki belas kasihan dan yang terampil akan mengatakan: “Janganlah memfitnah maupun berbohong maka engkau akan menjadi yakkha yang semua keinginannya terpenuhi“.’

Janganlah melakukan pembicaraan yang memfitnah, dan jangan pula mengucapkan atau berbicara bohong. Jika engkau berpantang dari berucap bohong dan berbicara dengki sehingga terkendali di dalam ucapan, maka engkau akan menjadi yakkha atau dewa atau salah satu dari kelompok dewa. Setelah memperoleh keagungan surgawi yang terhalus dan memperoleh apapun yang diinginkan, engkau akan dapat pergi ke sana sini (dengan senang) dan secara alami engkau akan dapat rnenyenangkan diri dan memenuhi keinginan indera sukamu.

Setelah mendengar hal ini, Thera itu lalu melanjutkan perjalanan ke Rajagaha untuk mengumpulkan dana makanan. Setelah makan dan kembali, beliau mengemukakan hal ini kepada Sang Guru. Karena menganggapnya sebagai munculnya suatu kebutuhan, Sang Buddha kemudian mengajarkan Dhamma. Ajaran itu bermanfaat bagi mereka yang berkumpul di sana.

1.3 PENJELASAN MENGENAI CERITA PETA BERMULUT BUSUK

[Putimukhapetavatth uvanannana]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: