Bola Api Naga di Thailand

Bola Api Naga di Thailand

dharma-mangala-51-bola-naga.jpg

Pernah mendengar cerita tentang bola api naga dari sungai Mekong? Fenomena ini boleh dibilang unik dan hanya terjadi setahun sekali setelah para bhikkhu selesai vassa. Banyak orang tidak mempercayai fenomena ini, namun banyak pula yang sebaliknya. Bulan Oktober lalu, tepatnya tanggal 26 Oktober 2007, saya dan kawan-kawan sertai ditemani oleh Iwan Chandra –yang sudah lama tinggal di Thailand– berkesempatan melihat fenomena itu. Setelah mengunjungi beberapa vihara dimana terdapat bhikkhu yang dipercaya sudah mencapai tingkat kesucian, akhirnya kami berhenti di Wat Ceremit, sebuah vihara di tepi sungai Mekong — sungai yang membatasi Thailand dan Laos. Menurut cerita yang saya dengar, bola naga ini muncul di 9 tempat, dan kami memilih di tempat ini. Kami duduk du tepian sungai yang lebarnya 1 km tersebut, dan mulai memandangi atas sungai. Orang sudah berjibun menanti kemunculan bola api tersebut. Banyak orang yang bermain petasan terbang (Janwe), namun itu biasa saja. Sekitar pukul 19.00 waktu setempat, tiba-tiba orang-orang berteriak bersama-sama, dan sebuah benda bulat merah menyala di seberang sungai terbang ke angkasa dan menghilang bersama teriakan orang banyak. Kejadian ini berlangsung sampai pukul 21.30 waktu setempat. Esok harinya, di harian setempat, diberitakan secara keseluruhan bola api tersebut muncul sebanyak 127 buah dan di tempat kami tersebut bola itu muncul sebanyak 29 buah, boleh dibilang yang terbanyak. Di beberapa tempat bahkan ada yang tidak muncul sama sekali, sehingga banyak masyarakat Thailand yang kecewa. Kami sendiri hanya melihat 24-25 buah saja. Bahkan ada 3 bola api yang muncul di tengah sungai di depan kami, sehingga kami dengan sangat jelas melihatnya dari mulai muncul sampai menghilang. Fenomena ini terdapat di Sungai Mekong, di Propinsi Nong Khai, Thailand. Bola api naga biasanya muncul sekitar 1-30 meter dari atas sungai, lalu meluncur ke atas setinggi 50 – 150 meter selama 5 – 10 detik dan tidak seperti kembang api janwe, menghilang tak berbekas tanpa ada benda yang jatuh dari angkasa. Bola api naga ini besarnya sejempol orang dewasa sampai setelur ayam. Tidak berasap, tidak bersuara dan bentuk luncurannya tidak parabolic melainkan tegak lurus. Menurut cerita setempat, setelah Sang Buddha merealisasikan pencerahan Beliau melakukan perjalanan ke seluruh Jambudipa untuk menyebarkan Ajaran. Karena keyakinannya yang tinggi, Raja ular naga merubah dirinya menjadi manusia dan menjadi bhikkhu. Suatu malam, karena keteledoran Raja Naga tertidur dan kembali ke wujud aslinya, seekor ular naga. Saat itu, ada bhikkhu yang datang ke ruangan tersebut dan melihatnya, mereka terkejut dan ketakutan, lalu melaporkan kejadian itu kepada Sang Buddha. Sang Buddha memintanya untuk keluar dari Sangha, karena Naga tidak bisa menjadi Bhikkhu. Raja naga menerima. Sebagai perhormatan kepada Buddha Dhamma, Raja naga dan rombongannya menyambut Sang Buddha dengan mengeluarkan bola apinya sebagai penghormatan setelah Sang Buddha kembali ke bumi dari surga Tavatimsa dimana Beliau menetap selama 3 bulan untuk mengajarkan dhamma kepada ibunya Sampai saat ini, bola api dikenal masyarakat sebagai bola api Naga, yang muncul setahun sekali setelah vassa selesai. Aneh bukan? Dharma Mangala 51

Oleh:

KOWAJONG

http://kowajong.multiply.com/

“SAYA BERSAMAMU SAYANG”

“SAYA BERSAMAMU SAYANG”
=======================
Seorang anak lahir setelah 11 tahun pernikahan. Mereka adalah pasangan yg saling mencintai dan anak itu adalah buah hati mereka. Saat anak tersebut berumur dua tahun, suatu pagi si ayah melihat sebotol obat yg terbuka. Dia terlambat untuk ke kantor maka dia meminta istrinya untuk menutupnya dan menyimpannya di lemari. Istrinya, karena kesibukannya di dapur sama sekali melupakan hal tersebut.

Anak itu melihat botol itu dan dengan riang memainkannya. Karena tertarik dengan warna obat tersebut lalu si anak memakannya semua. Obat tersebut adalah obat yg keras yg bahkan untuk orang dewasa pun hanya dalam dosis kecil saja. Sang istri segera membawa si anak ke rumah sakit. Tapi si anak tidak tertolong. Sang istri ngeri membayangkan bagaimana dia harus menghadapi suaminya.

Ketika si suami datang ke rumah sakit dan melihat anaknya yang telah meninggal, dia melihat kepada istrinya dan mengucapkan 3 kata.

PERTANYAAN :
1. Apa 3 kata itu ?
2. Apa makna cerita ini ?
.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

JAWABAN :
Sang Suami hanya mengatakan “SAYA BERSAMAMU SAYANG”

Reaksi sang suami yang sangat tidak disangka-sangka adalah sikap yang proaktif. Si anak sudah meninggal, tidak bisa dihidupkan kembali. Tidak ada gunanya men-cari²kesalahan pada sang istri. lagipula seandainya dia menyempatkan untuk menutup dan menyimpan botol tersebut maka hal ini tdk akan terjadi.

Tidak ada yg perlu disalahkan. Si istri juga kehilangan anak semata wayangnya. Apa yg si istri perlu saat ini adalah penghiburan dari sang suami dan itulah yg diberikan suaminya sekarang.

Jika semua orang dapat melihat hidup dengan cara pandang seperti ini maka akan terdapat jauh lebih sedikit permasalahan di dunia ini.

“Perjalanan ribuan mil dimulai dengan satu langkah kecil” smile.gif

MORAL CERITA
============
Cerita ini layak untuk dibaca. Kadang kita membuang waktu hanya untuk mencari kesalahan org lain atau siapa yg salah dalam sebuah hubungan atau dalam pekerjaan atau dengan org yg kita kenal. Hal ini akan membuat kita kehilangan kehangatan dalam hubungan antar manusia.

Buang rasa iri hati, cemburu, dendam, egois dan ketakutanmu. Kamu akan menemukan bahwa sesungguhnya banyak hal tidak sesulit yang kau bayangkan

 

Peta Yang Memiliki Mulut Berbau Busuk.

Engkau memiliki warna kulit surgawi yang indah.’ Demikian dikatakan Sang Guru ketika Beliau sedang berdiam di Tempat Memberi Makan Tupai di Hutan Bambu berkenaan dengan peta yang memiliki mulut berbau busuk.

Dikatakan bahwa dahulu kala, pada zaman Buddha Kassapa, dua orang laki-laki muda dari keluarga baik-baik meninggalkan keduniawian dan masuk ke dalam ajaran Sang Buddha. Mereka menjalani perilaku yang bermoral, pengendalian diri yang keras, dan hidup rukun di suatu desa. Namun pada suatu hari datang seorang bhikkhu yang senang melakukan perbuatan-perbuatan jahat dan suka memfitnah. Kedua Thera ini menyambut dengan ramah dan mempersilakan dia untuk tinggal. Pada hari berikutnya mereka bersama-sama pergi ke desa untuk mengumpulkan dana makanan. Ketika melihat tiga Thera ini, penduduk desa memperlakukan mereka dengan amat hormat dan melayani dengan makanan bubur beras dll. Maka ketika kembali ke vihara, bhikkhu itu berpikir, ‘Desa ini merupakan sumber makanan yang baik karena penduduknya memiliki keyakinan yang besar. Dana makanannya pun pilihan. Vihara ini teduh dan airnya pun baik. Aku bisa tinggal di sini dengan bahagia. Tetapi selama dua bhikkhu itu masih di sini, vihara ini tidak akan memberikan kenyamanan karena aku akan hidup seperti murid tumpangan. Maka, aku harus memecah-belah mereka dan melakukan sesuatu agar mereka tidak lagi tinggal disini.’

 

Oleh karena itu, pada suatu hari setelah Thera yang senior mengajar dua bhikkhu lainnya, bhikkhu pemfitnah itu masuk ke tempat tinggalnya sendiri, berdiam di sana beberapa saat dan kemudian menghampiri bhikkhu senior itu. Bhikkhu senior itu bertanya, ‘Mengapa engkau datang pada saat yang tidak tepat, saudaraku?’ ‘Ada sesuatu yang harus saya katakan, Yang Mulia,’ (jawabnya). Ketika sang Thera memberikan izin (untuk berbicara) dia mengatakan, `Yang Mulia, di depanmu Thera temanmu itu berlaku seperti teman, tetapi di belakangmu dia suka menjelek-jelekkan engkau sebagai pesaing.’ Ketika ditanya apa (itu yang) dikatakan, dia menjawab, ‘Dengarkan, Yang Mulia, dia bicara menjelek-jelekkan engkau. Katanya, “Thera senior ini licik, suka menipu, dan gadungan. Dia mencari nafkah dengan cara yang salah.”‘ ‘Jangan berbicara demikian, saudaraku. Bhikkhu itu tidak akan berbohong tentang saya. Dia sudah mengetahui watakku sejak kami masih umat awam. Sudah menjadi sifat saya untuk selalu baik dan ramah.’ ‘Jika engkau berpikir demikian karena kemurnian hatimu, terserah. tetapi saya tidak bermusuhan dengan dia, jadi untuk apa saya berkata bahwa dia mengatakan hal demikian seandainya dia tidak mengatakannya? Baiklah. Engkau akan melihat sendiri setelah beberapa waktu,’ katanya. Karena Thera itu masih puthujjana, dia goyah, dan mulai menduga-duga, ‘Mungkinkah betul apa yang dikatakan itu?’. Maka rasa curiga muncul di hatinya, dan kepercayaannya agak goncang. Setelah mengadu pada Thera senior yang pertama, dengan cara yang sama si dungu itu pun membuat agar Thera satunya memiliki rasa permusuhan. Pada hari berikutnya, kedua Thera tersebut tidak saling menyapa ketika memakai jubah, rnengambil mangkuk dan pergi ke desa untuk mengumpulkan dana makanan. Ketika membawa kembali dana makanan, mereka masing-masing makan di tempat kediamannya sendiri, tanpa beramah-tamah sedikit pun. Mereka melewatkan siang hari di sana, dan ketika fajar menyingsing, masing-masing pergi sesukanya tanpa memberitahu yang lain. Ketika orang-orang melihat si bhikkhu pemfitnah pergi mengumpulkan dana makanan ke desa yang dapat memenuhi segala keinginannya, mereka bertanya, ‘Ke mana para Thera pergi, Yang Mulia?’ ‘Mereka bertengkar sepanjang malam. Sudah saya nasihatkan agar mereka hidup rukun, jangan bertengkar. Juga saya beritahukan bahwa pertengkaran akan membawa kesialan, menimbulkan kesengsaraan di masa depan dan memicu perbuatan-perbuatan tak-bajik lain; lagi pula sebagian besar perbuatan bermanfaat yang telah dilakukan akan hilang lewat pertengkaran – dan sebagainya, tetapi mereka pergi begitu saja tanpa mengacuhkan kata-kata saya.’ Mendengar hal ini orang-orang itu memohon, ‘Biarlah para Thera itu pergi sesukanya. Tetapi kami mohon Yang Mulia tinggal di sini demi belas kasihan kepada kami Yang Mulia tidak akan menyesal.’ ‘Baiklah,’ dia setuju. Namun setelah tinggal di sana selama beberapa hari, dia mulai berpikir, ‘Aku telah membuat bhikkhu-bhikkhu yang luhur dan memiliki watak yang baik itu saling bermusuhan karena keserakahanku terhadap tempat tinggal. Jelas aku telah melakukan perbuatan yang sangat jahat!’ [14] Dibebani suara hati nurani yang amat tidak enak, dia jatuh sakit karena beban kesedihan, dan ketika meninggal tidak lama kemudian, dia pun muncul di Avici.

Kedua Thera yang lain berkelana di negeri itu, dan suatu ketika bertemu serta bertegur sapa. Mereka saling memberitahukan kata-kata bhikkhu pemfitnah yang menimbulkan perselisihan itu. Ketika menyadari bahwa tidak ada kebenaran di dalamnya, mereka berbaikan (lagi) dan akhirnya kembali ke tempat tinggal semula.

Ketika orang-orang melihat kedua Thera itu, mereka sangat bersuka-cita. Dengan amat bahagia mereka melayani kedua Thera itu dan memberikan empat kebutuhan pokok. Para Thera itu pun tinggal di sana. Ditopang dengan makanan yang cocok, mereka mengembangkan pandangan terang melalui konsentrasi pikiran. Tak lama kemudian mereka pun mencapai tingkat Arahat.

Bhikkhu pemfitnah itu terbakar di neraka selama satu masa jeda-Buddha dan muncul pada periode Buddha Gotama tidak jauh dari Rajagaha sebagai peta yang mulutnya berbau busuk. Tubuhnya berwarna emas tetapi cacing-cacing keluar dari mulutnya untuk memangsa wajahnya di sana sini. Dia menyebarkan bau busuk sampai jauh ke udara. Ketika Y.M. Narada turun clari Puncak Burung Nasar, beliau melihat peta ini dan bertanya tentang perbuatan yang telah dilakukannya lewat syair ini:

1 ‘Engkau memiliki warna kulit surgawi yang indah. Tetapi ketika engkau berdiri di udara, di langit, cacing-cacing memangsa mulutmu yang berbau busuk. Perbuatan apakah yang telah engkau lakukan di masa lalu?’

‘engkau berdiri di udara menyinari langit’. [15] Berbau busuk (putigandham) : memiliki bau mayat yang membusuk, artinya bau busuk yang amat menusuk. Perbuatan apakah yang telah engkau lakukan di masa lalu (kim kammam akasi pubbe):

Ketika ditanya oleh Thera itu tentang perbuatan yang telah dilakukannya, peta itu mengucapkan syair ini untuk menjelaskan persoalannya:

 

2 ‘Dahulu aku adalah petapa yang jahat, dan mulutku jelek; (walaupun) menyamar sebagai petapa, aku tidak terkendali di mulut. Melalui kerasnya usahaku maka aku menerima warna kulit ini, dan karena fitnahku maka aku menerima mulut yang berbau busuk ini.’

Di sini Dahulu aku adalah petapa yang jahat (samano aham papo): aku adalah petapa yang hina, bhikkhu yang jahat. Bermulut busuk (dutthavaco) : berbicara jelek; aku menyinggung orang-orang lain, aku bertindak terlalu jauh lewat mulutku, artinya aku berbicara menjelek-jelekkan keluhuran orang lain. Pilihan lainnya adalah bermulut luar biasa bau (atidutthavaco) : luar biasa kasar bicaranya, suka berperilaku buruk lewat ucapan, seperti misalnya berbicara bohong, memfitnah dll.

Setelah menceritakan perbuatan yang telah dilakukannya, peta itu kemudian mengucapkan syair penutup untuk menjelaskan kepada Thera itu:

3 ‘Engkau sendiri telah melihat ini, Narada. Mereka yang memiliki belas kasihan dan yang terampil akan mengatakan: “Janganlah memfitnah maupun berbohong maka engkau akan menjadi yakkha yang semua keinginannya terpenuhi“.’

Janganlah melakukan pembicaraan yang memfitnah, dan jangan pula mengucapkan atau berbicara bohong. Jika engkau berpantang dari berucap bohong dan berbicara dengki sehingga terkendali di dalam ucapan, maka engkau akan menjadi yakkha atau dewa atau salah satu dari kelompok dewa. Setelah memperoleh keagungan surgawi yang terhalus dan memperoleh apapun yang diinginkan, engkau akan dapat pergi ke sana sini (dengan senang) dan secara alami engkau akan dapat rnenyenangkan diri dan memenuhi keinginan indera sukamu.

Setelah mendengar hal ini, Thera itu lalu melanjutkan perjalanan ke Rajagaha untuk mengumpulkan dana makanan. Setelah makan dan kembali, beliau mengemukakan hal ini kepada Sang Guru. Karena menganggapnya sebagai munculnya suatu kebutuhan, Sang Buddha kemudian mengajarkan Dhamma. Ajaran itu bermanfaat bagi mereka yang berkumpul di sana.

1.3 PENJELASAN MENGENAI CERITA PETA BERMULUT BUSUK

[Putimukhapetavatth uvanannana]

KENYATAAN DUNIA

KENYATAAN DUNIA
oleh : ROCH AKSIADI

AKU DISINI MERAYAPI
AKU DISINI MENELUSURI
AKU DISINI MENJELAJAHI
AKAN ARTI KEHIDUPAN

YANG PENUH DENGAN KEGELAPAN
YANG PENUH DENGAN KECONGKAKAN
YANG PENUH DENGAN KEEGOAN
YANG PENUH DENGAN KEBODOHAN
YANG PENUH DENGAN CINTA KASIH
YANG PENUH DENGAN KASIH SAYANG
YANG PENUH DENGAN KEBAHAGIAAN

DIDALAM KENYATAAN INI
DIDALAM KEBERADAAN INI
DIDALAM MENJALANI PROSES INI

MEREKA BENCI
MEREKA SAYANG
MEREKA SIBUK
MEREKA LELAH
MEREKA MENGELUH
MEREKA OPTIMIS
MEREKA TENANG

ITULAH CORAK YANG NYATA
ITULAH BATIK YANG SELALU ADA
ITULAH WARNA DALAM DUNIA
ITULAH YANG KERAP KALI DIRENUNGKAN
ITULAH YANG HARUS KITA TAHU

AGAR KITA BIJAKSANA
AGAR KITA LEBIH MENGERTI
AGAR KITA TIADA CONGKAK
AGAR KITA SELALU TENANG
AGAR KITA BISA MELANGKAH DENGAN SEMPURNA

RENUNGAN

“Wahai, para Bhikkhu,
bahkan pandangan ini (ajaran Buddha)
yang begitu murni dan begitu jelas,
jika engkau melekat,
jika engkau menghasratinya,
jika engkau menjadikannya sebagai harta
jika engkau terikat kepadanya,
maka sesungguhnya
engkau tidak paham
bahwa ajaran ini adalah
seperti sebuah rakit
yang digunakan untuk menyeberang
bukan sesuatu untuk dipikul.”

JANGAN MELEKAT PADA PANDANGAN
Ulasan-Ulasan Pokok

Penjelasan Mengenai Dana

Penjelasan Mengenai Dana
Oleh : Bhikkhu Ledi Sayadaw (almarhum)

Penggolongan Menurut Pasangan Dua

  1. AMISA DANA dan DHAMMA DANA

    Amisa Dana : Pemberian dalam bentuk materi (termasuk uang)
    Dhamma Dana: Pemberian berupa pengetahuan Dhamma, misalnya: mengajar, memberikan khotbah, menulis, menerbitka dan memberi buku-buku Dhamma.

    Dari keduanya, Dhamma Dana memberikan hasil atau vipaka yang lebih tinggi dan berguna. Karena “SABDA DANAM DHAMMA DANAM JINATI”, artinya: dari semua pemberian, pemberian DHamma-lah yang tertinggi. Amisa Dana menghasilkan kemakmuran dan kesejahteraan materi. Dhamma Dana menghasilkan timbulnya kebijaksanaan dan pengetahuan.

  2. SAKKACA DANA dan ASAKKACCA DANA

    Sakkacca Dana: Pemberian dengan hati-hati, sopan dan penuh hormat.
    Asakkacca Dana : Pemberian tanpa sifat-sifat tersebut di atas. Misalnya memberikan makanan kepada hewan, tanpa memperhatikan segi-segi kebersihan dan sebagainya.

    Jika Asakkacca Dana menghasilkan buah maka seseorang akan mendapatkan sikap yang kurang hormat atau kasar dari teman-teman, anak-anak atau pelayan-pelayannya.

  3. PUJA DANA dan ANUGGAHA DANA

    Puja Dana : Pemberian kepada orang-orang yang menjalankan sila dan orang-orang mulia. Atau orang yang mempunyai status lebih tinggi sebagai tanda hormat.
    Anuggaha Dana : Pemberian kepada orang yang lebih rendah.

    Puja Dana menghasilkan buah yang lebih banyak dan tinggi. Anuggaha Dana-pun jika dilakukan dengan tepat, dapat juga membawa hasil buah akibat yang besar. Seorang Bodhisattva, Raja Vessantara memberikan seorang anaknya kepada seorang Brahmana rendahan yang bernama Jujaka. Tetapi karena Cetana (kehendaknya) demikian kuat, maka hasil yang diterimanya sangat besar.

  4. SAHATTHIKA DANA dan ANATTHIKA DANA

    Sahatthika Dana : Pemberian dengan tangan sendiri atau secara pribadi.
    Anatthika Dana : Pemberian dengan menggunakan perantara, misalnya dengan melalui seorang pelayan.

    Bila Anatthika Dana menghasilkan buah, mungkin disertai dengan tiadanya pengikut atau teman. Raja Rajanna dilahirkan di Alam Dewa Catumaharajika dengan menerima istana yang besar (atas dana yang dilakukan selama hidupnya  sebagia manusia. Tetapi karena dana yang diberikan dilakukan melalui pelayannya, maka ia tinggal sendirian di dalam istana Dewa tersebut, tanpa adanya pelayan atau pendamping.

  5. THAVARA DANA dan ATHAVARA DANA

    Thavara Dana : Pemberian yang bersifat tahan lama, misalnya stupa, rumah peristirahatan, vihara, sekolah, jembatan, sumur, menara air, tanah dan sebagainya.
    Athavara Dana : Pemberian yang sifatnya tidak tahan lama, misalnya,   makanan, pakaian dan uang.

    Thavara Dana menghasilkan buah yang lebih kuat. Athavara Dana dapat menghasilkan buah yang sama kuat dengan Thavara Dana, bila Athavara Dana dilakukan dengan teratur dan terus menerus (dalam jangka waktu tertentu).

  6. SAPARIVARA DANA dan APARIVARA DANA

    Saparivara Dana : Pemberian yang disertai dengan tambahan-tambahan lain yang lengkap.
    Asaparivara Dana : Pemberian yang tidak disertai dengan tambahan-tambahan lain.

    Pemberian nasi saja adalah Aparivara Dana, bila disertai dengan lauk pauk dan kue-kue, termasuk Saparivara Dana. Sama juga halnya dengan pemberian roti saja, adalah Aparivara Dana. Sedangkan bila disertai dengan mentega atau selai adalah Saparivara Dana. Bila Aparivara menghasilkan buah, biasanya akan cenderung untuk tidak lengkap, misalnya seseorang menerima rumah, mungkin tak ada dindingnya.

  7. NICCA DANA dan ANICCA DANA

    Nicca Dana : Pemberian yang dilakukan secara teratur dan tetap.
    Anicca Dana : Pemberian yang dilakukan kadang-kadang saja. Dalam Anggutara Nikaya dikatakan bahwa jika seseorang melakukan Nicca Dana dan Thavara Dana adalah seperti seorang Sotapana. Dia tidak akan dilahirkan di alam Apaya (Alam menyedihkan / neraka).

  8. SANKHARA DANA dan ASANKHARA DANA

    Sankhara Dana : Pemberian Dana setelah mendapat dorongan atau anjuran dari orang lain.
    Asankhara Dana : Pemberian yang dilakukan atas kehendak sendiri, tanpa dorongan dari orang lain.

    Sankhara Dana bila menghasilkan buah, akan menjadi seseorang lamban berpikir dan bodoh, dan buahnya sendiri terbatas sekali. Asankhara Dana bila menghasilkan buah, akan menjadikan seseorang cerdas dan pandai, buahnya tidak terbatas.

  9. JANA DANA dan AJANA DANA

    Jana Dana : Pemberian yang dilakukan dengan sepenuh pengertian (mengerti akan akibat-akibatnya).
    Ajana Dana : Pemberian yang dilakukan dengan tidak mengerti / mengetahui apa akibatnya.

    Ajana Dana menghasilkan Dvihetuka Patisandhi. Mereka yang dilahirkan dengan Dvihetuka Patisandhi tidak banyak yang dapat mereka capai dalam kehidupan spiritual, sebab mereka tidak mempunyai Amoha (kebijaksanaan). Jana Dana membawa kea rah Tihetuka Patisandhi. Mereka yang lahir dengan Tihetuka Patisandhi dapat mencapai tingkat Arahat dalam kehidupan sekarang ini.

  10. VATTA NISSITA DANA dan VIVATTA NISSITA DANA

    Vatta Nissita Dana : Pemberian yang dilakukan untuk mengharapkan keuntungan-keuntungan yang bersifat duniawi. Keuntungan Duniawi melipyti keinginan untuk dilahirkan di alam-alam dewa, dilahirkan sebagai anak orang kaya.
    Vivatta Nissita Dana :Pemberian dengan tujuan untuk membebaskan diri dari Samsara (kesengsaraan) dengan tercapainya Nibbana / Kebebasan.

    Perbedaan antara Vatta Nissita Dana dengan Vivatta Nissita Dana ini merupakan keistimewaan dalam ajaran agama Buddha. Vatta Nissita Dana tidak membentuk Paramita; sedangkan Vivatta Nissita Dana dapat membentuk Paramita. Vatta Nissita Dana dapat pula membentuk Paramita, tetapi cenderung untuk memperpanjang Samsara (roda perputaran hidup dan mati).

  11. DHAMMA DANA dan ADHAMMA DANA

    Istilah Dhamma di sini lain dengan istilah Dhamma dalam nomor 1. Dhamma di sini berarti “sesuai dengan hokum alam (Dhamma)” atau “tidak melanggar hokum alam (Dhamma yang diajarkan oleh Sang Buddha)”

    Dhamma Dana : Pemberian berupa nasi, pakaian dan sebagainya.
    Adhamma Dana : Pemberian berupa minuman keras, senjata, mesiu dan sebagainya barang-barang yang berbahaya, yang mungkin menjadikan seseorang melanggar Panati atau Surameraya Sila.

    (Untuk daftar lima macam Adhamma Dana lihat pada penggolongan Pasangan Lima)

  12. DHAMMIKA DANA dan ADHAMMIKA DANA

    Dhammika Dana : Pemberian yang betul diberikan kepada seseorang atau Yayasan yang dituju sejak dari semula.
    Adhammika Dana : Pemberian yang sebetulnya akan diberikan kepada seseorang atau suatu Yayasan, tetapi orang itu merubah pikirannya dan memberikannya kepada orang lain atau Yayasan lain.

  13. VATTHU DANA dan ABHAYA DANA

    Vatthu Dana : Pemberian barang materi.
    Abhaya Dana : Pemberian berupa suatu kebebasan kepada suatu makhluk dari bahaya atau dari kematian, misalnya membebaskan hewan-hewan dari kurungan (yang telah ditangkap), larangan untuk berburu di hutan, melatih / mematuhi Lima Sila (Pancasila) dan sebagainya.

  14. AJJHATIKA DANA dan BAHIRA DANA

    Ajjhatika Dana : Pemberian berupa anggota badan, misalnya mata, badan jasmani dan mengorbankan jiwa sendiri untuk kebaikan dan kebahagiaan orang lain.
    Bahira Dana : Pemberian biasa, tidak berupa anggota tubuh sendiri.

    Ada tiga macam Paramita (Kesempurnaan)

    1. Paramita biasa.

    2. Upa Paramita, yaitu pemberian anggota tubuh, tetapi tidak memberikanjiwa (hidup) seseorang.

    3. Paramattha Paramita, yaitu pemberian jiwa / hidup seseorang.

  15. SAVAJJA DANA dan ANAVAJJA DANA

    Savajja Dana : Pemberian yang disertai kekejaman atau pembunuhan makhluk hidup (binatang-binatang).
    Anavajja Dana : Pemberian yang tidak disertai denga kekejaman atau pembunuhan makhluk hidup.

    Savajja Dana bila menghasilkan buah, cenderung disertai dengan adanya bahaya-bahaya, atau dapat pula hilangnya jiwa seseorang.

  16. AGGA DANA dan UCCHITA DANA

    Agga Dana : Pemberian sesuatu yang terbaik dan terutama.
    Ucchita Dana : Pemberian berupa sesuatu yang bernilai rendah (barang sisa).

    Jika si penerima Ucchita Dana menghargai dan menyukai pemberian itu, maka Dana yang diberikan itu tetap akan membawa hasil yang besar. Yang paling penting adalah Cetana (kehendak) yang baik dan Sakkacca (sikap pikiran yang hormat dan sungguh-sungguh) dari si pemberi, misalnya orang kaya memberi orang miskin, pemberian tersebut nampaknya nilainya rendah di mata orang kaya, tetapi dalam pandangan si orang miskin, barang tersebut sangat diharagai. Demikian juga dengan pemberian kepada hewan-hewan.

  17. HINA DANA dan PANITA DANA

    Hina Dana : Pemberian yang bernilai rendah.
    Panita Dana : Pemberian yang bernilai tinggi.

    (Penjelasan sama dengan penjelasan nomor 16)

Penggolongan Menurut Pasangan Tiga

  1. HINA DANA, MAJJHIMA DANA dan PANITA DANA.

    1. Hina Dana : Pemberian yang dilakukan dengan harapan mendapat kemasyhuran.

    2. Majjhima Dana : Pemberian yang dilakukan dengan tujuan untuk dapat dilahirkan sebagai manusia yang kaya.

    3. Panita Dana : Pemberian yang dilakukan dengan harapan untuk mencapai kebebasan (Nibbana).

     

  2. DASA DANA, SAHAYA DANA dan SAMI DANA.

    1. Dasa Dana : Pemberian yang bernilai rendah, misalnya sesuatu yang biasa diberikan kepada seorang budak.

    2. Sahaya Dana : Pemberian yang mempunyai tingkat yang sama dengan apa yang biasa digunakan seseorang yang sama kedudukannya, misalnya sesuatu yang diberikan kepada seorang teman.

    3. Sami Dana : Pemberian yang bernilai tinggi, misalnya sesuatu yang bisa dipakai oleh para majikan atau raja-raja.

     

  3. LOKA DANA, ATTA DANA dan DHAMMA DANA

    1. Loka Dana : Pemberian yang dilakukan karena tradisi setempat (takut dipandang rendah  bila tidak ikut berdana).

    2. Atta Dana : Pemberian yang dilakukan untuk menjaga kewibawaan / pangkat seseorang.

    3. Dhamma Dana : Pemberian yang dilakukan karena ingin mempratekkan ajaran agama.

     

Penggolongan Menurut Pasangan Empat

  1. CATTU PACCAYA DANA

    Penggolongan ini meliputi empat macam kebutuhan seorang Bhikkhu :

    1. Civara Dana : Pemberian jubah kepada bhikkhu.

    2. Pindapatta Dana : Pemberian makanan kepada bhikkhu.

    3. Bhesajja Dana : Pemberian obat-obatan kepada bhikkhu.

    4. Senasana Dana : Pemberian tempat tinggal atau kuti kepada bhikkhu.

    Senasana Dana memberikan buah jasa yang paling tinggi. VIHARA DANAM SANHASA AGGAM BUDDHENA VANNITAM. Artinya: Sebuah tempat tinggal bhikkhu yang diberikan kepada Sangha dipuji oleh Sang Buddha sebagai pemberian hadiah tertinggi. SOCA SABBADODA HOTI, YO DADATI UPASSAYAM, yang berarti : seseorang yang mendirikan tempat tinggal bhikkhu sebagai hadiah kepada Sangha, sama nilainya dengan segala macam hadiah.

     

  2. DAKKHINA VISUDDHI DANA

    Penggolongan ini didasarkan atas:

    1. Sifat si pemberi yang berbudi luhur (menjalankan sila).

    2. Sifat si pemberi yang tidak berbudi luhur (tidak menjalankan Sila)

    3. Sifat si penerima yang berbudi luhur (menjalankan Sila).

    4. Sifat si penerima yang tidak berbudi luhur (tidak menjalankan Sila)

Bila keduanya berbudi luhur, pemberian tadi akan menghasilkan buah yang banyak; jika salah satunya tidak berbudi luhur, hasil yang diperolehnya hanya sedikit.

 

Penggolongan Menurut Pasangan Lima

ADHAMMA DANA (lihat nomor 11 dari Penggolongan Menurut Pasangan Dua), ada lima macam Adhamma Dana, yakni :

  1. Pemberian makanan minuman yang memabukkan, dan senjata dengan mesiunya.
  2. 2. Pemberian boneka-boneka untuk pertunjukkan, alat tari-tarian.
  3. Pemberian berupa hewan-hewan untuk maksud seksual.
  4. Pemberian berupa wanita-wanita untuk maksud seksual.
  5. Pemberian gambar atau karya-karya yang dapat menimbulkan Kilesa (kekotoran bathin).

Bila Seseorang memberikan racun, tali pengikat, pisau atau senjata-senjata lain secara sadar kepada seseorang yang ingin bunuh diri (juga cara-cara bunuh dirinya ikut diterangkan), hal itu termasuk Panatipata Kamma, bukan Kusala Kamma. Hal ini juga berlaku bagi seseorang yang sedang berusaha untuk membunuh orang lain. Tetapi, seandainya racun diberikan untuk tujuan penyembuhan penyakit, maka hal itu adalah Kusala Kamma.

Jika senjata-senjata dan mesiunya pertama-tama dibuat tak berbahaya, kemudian dapat digunakan di Vihara, maka hal itu adalah Kusala Kamma (perbuatan baik).

Pemberian berupa alat untuk menari, pertunjukkan dan sebagainya yang dapat menyebabkan timbulnya Kilesa (kekotoran bathin) adalah Akusala Kamma. Tetapi bila alat-alat seperti seruling, tambur, bedugdan sebagainya digunakan untuk menghasilkan suara-suara yang cocok dan sesuai untuk vihara, maka pemberian barang-barag tersebut tidak termasuk Akusala Kamma.

Bila barang-barang/obat-obatan yang memabukkan diberikan tidak dengan maksud untuk mabuk-mabukkan, tetapi untuk obat (dengan ditelan atau untuk dipakai diluar) dengan tujuan utama untuk menyembuhkan penyakit, maka hal itu adalah Kusala Kamma.

Pemberian hewan-hewan dan manusia (wanita) untuk menjalankan Kusala Kamma, dan tidak untuk maksud seksual atau perbuatan tidak bermoral lainnya, dapat dikatakan sebagai Dhamma Dana.

Di Dalam Velamaka Sutta, urutan daripada buah jasa yang diperoleh sesuai dengan tingkat-tingkat si penerima dan sesuai dengan hakikat / sifat perbuatan Dana tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Memberikan makanan kepada seseorang yang telah mencapai kesucian tingkat Sotapanna (tingkat pertama), akan menghasilkan buah jasa yang lebih banyak daripada memberikan Dana ke-empat jurusan, yang dilakukan oleh Brahmana Velamaka selama 7 tahun, 7 bulan dan 7 hari.

  2. Memberikan makanan sekali kepada seorang Sakadagami (Kesucian kedua) akan lebih banyak menghasilkan buah daripada 100 orang Sotapana.

  3. Kepada seorang Anagami akan menghasilkan buah jasa lebih banyak daripada 100 orang Sakadagami.

  4. Kepada seorang Arahat (Kesucian terakhir) akan menghasilkan buah jasa yang lebih banyak daripada 100 orang Anagami (Kesucian ketiga)

  5. Kepada seorang Pacceka Buddha (Buddha “Diam”) akan menghasilkan buah jasa yang lebih banyak daripada 100 orang Arahat.

  6. Kepada seorang  Samma Sambuddha (Buddha “Sempurna”) akan menghasilkan buah jasa yang jauh lebih banyak daripada 100 orang Pacekka Buddha.

  7. Pemberian kepada Sangha (Pesamuan para Bhikkhu), akan menghasilkan buah jasa jauh lebih banyak daripada Samma-Sambuddha.

  8. Pemberian sebuah Catudisa Sanghika Vihara menghasilkan buah jasa yang jauh lebih banyak. Ini adalah pemberian berupa dana materi yang tertinggi.

  9. Lebih menghasilkan buah jasa yang besar adalah Berlindung kepada Sang Tiratana.

  10. Lebih menghasilkan buah jasa yang besar adalah mematuhi / melaksanakan Pancasila Buddhis.

  11. Lebih menghasilkan buah jasa yang besar adalah melatih Samatha Bhavana untuk beberapa saat.

  12. Lebih menghasilkan buah jasa yang besar adalah melatih Vipassana Bhavana / Meditasi Pandangan Terang.

Seseorang dapat mencapai Nibbana dengan salah satu dari lima cara berikut ini :

  1. Sebagai seorang Savaka Buddha atau seorang Arahat, Pengikut Ariya biasa dari Sang Buddha.

  2. Sebagai seorang Mahavasaka atau pengikut sang Buddha dengan disertai suatu kemampuan istimewa. Di zaman Sang Buddha ada 80 Mahasavaka.

  3. Sebagai seorang Aggasavaka atau Pengikut Utama Sang Buddha. Setiap Buddha selalu mempunyai 2 orang Aggasavaka, yaitu Pengikut Utama Sebelah Kiri dan Pengikut Utama Sebelah Kanan.

  4. Sebagia seorang Pacceka Buddha atau Buddha Diam (Tak mempunyai kemampuan untuk membimbng orang lain menuju pencapaian Tingkat Kesucian).

  5. Sebagai seorang Sammasambuddha atau seorang Buddha Yang Maha Sempurna. Mencapainya dengan usaha sendiri, dan dapat membimbing orang lain menuju Pencapaian Tingkat Kesucian.

Untuk mencapai tingkat Sammasambuiddha, seseorang harus memenuhi syarat melakukan tiga macam Paramita. Untuk menjadi seorang Pacceka Buddha dan Aggasavaka, seseorang harus melakukan dua macam Paramita. Sedangkan untuk menjadi seorang Arahat biasa (Savaka Buddha atau Mahasavaka), dibutuhkan satu macam Paramita saja.

Penjelasan singkat ini diharapkan dapat memberikan gambaran bagaimana cara melakukan pemberian yang baik. Sangat diharapkan agar penjelasan tersebut dapat membantu kita dalam menerapkan dasar-dasar Kamma yang baik.

Jika semua makhluk mampu mengerti

Jika semua makhluk mampu mengerti,

sebagaimana aku mengerti buah dari berbagi

mereka tak akan pemah menikmati berkah mereka

tanpa membaginya dengan yang lain,

juga tak akan pemah ada setitik pun kekikiran

menetes dan menguasai hati mereka

Bahkan, ketika mereka hanya memiliki potongan makan yang terakhir dan satu-satunya,

mereka tak akan menikmatinya tanpa membaginya,

Jika ada orang lain disana untuk menerimanya.

JIKA SAJA MEREKA TAHU